Bismillahirrahmanirrahim….

“Jika seorang hamba menikah, maka telah menjadi sempurnalah setengah agamanya. Maka hendaklah ia bertaqwa kepada Allah pada sebahagian lainnya” (HR Al Hakim dan Ath-thabrani dari Anas bin Malik)


Insya Allah akan menikah….

Insya ALLAH akad nikah akan dilaksanakan pada tanggal: 4 Maret 2011 pukul 8.00 di Masjid Miftahul Abidin, Krian, Sidoarjo.

Info lebih lengkap, kunjungin web pernikahan saya 🙂
http://savitrihendrajaya.webnode.com

Mohon doanya yah, Temans 🙂

Penulis: Hatta Syamsuddin

Rini Cahyani, nama yang telah menggetarkan seluruh persendianku. Delapan bulan yang lalu. Tepatnya setelah dua bulan dari kelulusanku dari jurusan Teknik Industri kampus UI Depok.
Nama itu muncul di bagian paling atas dua lembar kertas yang disodorkan Ustad Madani  padaku. Sebuah nama yang masih asing bagiku. Namun justru itulah yang membuat jantung ini berdebar lebih cepat. Wajahkupun tak malu mengeluarkan rona merah-birunya. Aku penasaran ? Jelas !

Tetapi untunglah ustad dapat menangkap gelombang penasaran dalam raut mukaku. Setelah sempat terdengar batuk-batuk ringan, beliau mulai mengeluarkan suara khasnya.
” Gimana akhi, sudah antum baca semua biodatanya khan ..?”
Aku tak langsung menjawab. Semua butuh kehati-hatian. Setiap kalimat yang meluncur dari lisanku saat ini, dapat mengubah jalan hidupku di masa mendatang. Tetapi ustad Madani masih terus menebak-nebak alur pikiranku,
“Apakah beliau tidak memenuhi kriteria yang antum tuliskan ? ”
” Bukan begitu ustad, tapi… “,. Sekali lagi aku harus berpikir keras.
” Toyyib, antum baca deh terlebih dahulu. Tapi jangan lupa teh dan gorengannya jangan dicuekin ya .. ”
” Kalau yang itu… nggak usah ditawarin. Insya Allah kita habiskan  Ustad….”

Ustad tersenyum renyah meninggalkan aku dalam bingung. Bukan sekedar bingung. Ada getaran aneh tapi agung dalam kebingunganku. Sementara dua lembar kertas di tanganku malah semakin angkuh. Mencoba menari-nari dalam hatiku.
Masalah tidak memenuhi kriteriaku ? Ah, sebenarnya itupun bukan sesuatu yang kaku bagiku. Namun bagaimanapun aku harus lebih teliti. Kubaca dengan cermat deretan kalimat-kalimat dibawah nama tersebut.

Nama… Rini Cahyani bin  Soewandi …..
Soewandi ..? orang Jawa ? atau bahkan keturunan keraton Surakarta ?. Gimana kalo jadi nikah nanti, apa harus pakai adat jawa ? Ditonton ratusan orang di bangsal kencana ?. Memakai blangkon dan keris yang tersembunyi ? Wah ! Apa kata Dunia Islam nantinya ? Seribu satu pertanyaan yang kurang esensial mulai bersliweran mengganggu pikiranku. Aku beristighfar tiga kali. Nampaknya syaitan masih bersemangat untuk menunda-nunda azamku untuk menikah. Bisikannya yang bertabur keraguan itu harus segera kuenyahkan.

Bismillah. Mulai kubaca lagi deretan selanjutnya dengan lebih teliti. Tiap huruf, kata bahkan koma dan titik sangat menentukan !!.Semoga ustad lebih sabar menunggu.

Tempat Tanggal Lahir… Magelang, 23 Juni 1978..
Magelang ? Pasti suku Jawa. Aah.. bukan masalah besar. Toh aku tak pernah mencantumkan jenis suku pada daftar kriteria yang aku serahkan pada ustad. Apalagi orangtuaku paduan dinamis dari suku Melayu dan Bugis. Dan tak pernah kulihat ada pertikaian yang menyangkut SARA di rumahku.

Tapi bagaimana kalau ortunya Kejawen ? Hiii…bagaimana kalau diharuskan mandi kembang tiap malam jumat nanti. Brrr…dingin.  Belum lagi nyuci keris dan seperangkat jimat tiap malam purnama ?. Wah, aqidah islamiyah dan dakwah bisa terancam nih. Apa kata Dunia Islam nanti ? Duh, pikiranku mulai ngelantur lagi.

Tapi tahun kelahiran ? 1978 ? Dua tahun lebih muda dariku. Ini berarti ada  kesalahan. Apa mungkin ustad salah baca dengan permintaan tertulisku sepekan yang lalu ? atau  beliau punya penafsiran lain ?. Kalau tidak salah, yang aku tuliskan dan inginkan adalah minimal seusia dengan ku, atau jika memungkinkan lebih tua sekian tahun dariku.
Ini bukan sok pahlawan sebagaimana sering dituduhkan beberapa ikhwah kepadaku. Ini masalah muyul akhi, begitu aku menjawab tuduhan tersebut. Selama ini aku cenderung mudah berinteraksi dengan orang-orang yang lebih dewasa dariku.

Tapi ini ? dua tahun lebih muda ? Bagaimana kalau masih kekanak-kanakan ? Bagaimana kalau ngajinya belum lurus ? Mengapa ustad memberi pilihan yang ini sih ?. Kembali si syaiton asyik membenamkan pikiranku di lumpur keraguan. Kenapa aku harus terpedaya lagi ? Tsiqoh pada ustad adalah pilihan terbaikku saat ini. Bisa jadi umurnya masih muda, tapi dewasa dalam memaknai hidup. Yah, semoga.
Kulanjutkan mencermati barisan kalimat  selanjutnya di secarik kertas HVS tersebut,

Alamat    …. Perumahan Perwira TNI AL  Blok C 3 – Cilandak, Jakarta Selatan..
TNI AL dan Soewandi ? Putri seorang perwira militer ? Calon mertuaku seorang militer ? Apakah ia juga mendidik putrinya dengan gaya militeristik ?. Bagaimana kalau sang putri ternyata lebih militer dari orangtuanya ? Bagaimana kalau aku harus di uji dulu lewat adu fisik dengan salah seorang anak buahnya ? atau bahkan kakaknya barangkali ? Sebagaimana  kisah-kisah pendekar yang pernah aku baca di komik-komik waktu kecil dulu.
Ah, tak perlu ragu. Ini Cuma bisikan setan. Sekarang bukan jaman purba yang mengandalkan otot dan kekerasan. Lagi pula, kalau memang diperlukan, minimal aku masih bisa bertahan dengan sisa-sisa kejayaan latihan thifan-ku di kampus dulu.

Ku menoleh sebentar ke arah ustad Madani yang duduk di depanku. Nampaknya ia cukup paham dengan apa yang ada dipikiranku. Ia hanya tersenyum kecil, mengangguk, sedikit berdehem dan kembali larut dalam konsep khotbah Jum’at yang harus dibawakannya di Masjid UNJ besok siang.
Aku pun kembali asyik menelaah deretan kalimat di secarik kertas, yang menurutku masih menyimpan berjuta misteri.

Pendidikan .. Lulus S 1 Fakultas Sejarah Universitas Gajah Mada tahun 2001..
Nah ! Ini sesuai dengan kriteria, non eksakta. Aku lulusan eksak, teknik Industri  dan ia anak sosial, non eksakta, insya Allah matching dan cukup mewakili konsep tawazun, Amiin.

Organisasi …Humas BEM, Keputian LDK, Remas, Pengajar TPA  dan bla…bla..bla...
Aktifis kelas berat ? Siapa takut. Bukankah masa lima tahun kuliah telah kuhabiskan di berbagai kegiatan-kegiatan kampus. Baik ekstra maupun intra kampus. Cara kerja, kuliah, belanja, dakwah dan pergaulan ala aktifis semua sudah ‘mendarah daging’ bagiku. So, kalau ketemu dengan aktifis yang satu ini, insya Allah tidak perlu susah beradaptasi. Semoga saja ya. Teriakku dalam hati.

Pekerjaan .. Guru Tetap di SLTP Islam Terpadu Nurul Fikri Mata Pelajaran Sejarah
Ya Allah .! Aku merasakan detak jantungku berjalan lebih cepat. Keringat dingin nampaknya akan menetes di dahiku. Wajahku tak ketinggalan ikut bereaksi. Tegang. Menambah  keterkejutan yang melahirkan kegelisahan baruku.

Tepat pada waktunya ! Ustad Madani menoleh sejenak ke arahku. Dengan mudahnya ia bisa menangkap kegelisahan yang tersirat dari wajahku. Masih dengan tenang. sejuk dan senyuman khasnya, ia menegurku.
” Ada yang mengganjal akhi ?”
” Eeeng… ada.. Ustad, Anu… eee.. benarkah ukhti ini  salah seorang pengajar di SLTP IT Nurul Fikri, Depok ? ”

Ustad Madani membenarkan letak kacamatanya. Tanda rasa penasarannya mulai tergugah.
” Ya, betul. Ukhti Rini baru dua minggu yang lalu diangkat sebagai pengajar tetap di sana. Sebelumnya, sudah tiga bulan ia mengajar sebagai guru honorer.”
” Tapi, ustad …. “, aku terhenti sejenak untuk mencoba lebih tenang.
” Ada yang antum risaukan dengan status gurunya itu ?. Bukankah itu pekerjaan yang sangat mulia akhi Fajar ? “.

(lebih…)

Munsyid: Epicentrum

Bila yakin tlah tiba
Teguh di dalam jiwa
Kesabaran menjadi bunga
Sementara waktu berlalu
Penantian tak berarti sia-sia
Saat perjalanan adalah pencarian diri

Laksana Zulaikha
Jalani hari
Sabar menanti
Yusuf Sang Tambatan Hati
Di penantian mencari diri
Bermohonkan ampunan dipertemukan….

Reff:
Segera kan ku jemput engkau bidadari
Bila tiba waktu kutemukan aku, ya Ilahi Robbi..
Keras ku mencari.. diri, sepenuh hati
Teguhkanlah ku di langkah ini
Di pencarian hakikat diri
Dan ijinkan ku jemput bidadari
Tuk bersama menuju-MU,
mengisi hari

Kini yakin tlah tiba
Teguh di dalam jiwa
Kesabaran adalah permata
dan waktu terus berlalu

Penantian tak berarti  sia-sia
Saat perjalanan adalah pencarian diri

Laksana Adam dan Hawa
Turun ke bumi
Terpisah jarak waktu
di penantian mencari diri
Bermohonkan ampunan dipertemukan


Bidadari tlah menyentuh hati
Teduhkan nurani
Bidadari tlah menyapa jiwa
Memberikan makna

Nasyid ini spesial kupersembahkan untuk Mas sepupu-ku yang besok Jum’at akan melangsungkan akad nikahnya… 🙂

        Baarakallahu laka,
        wa baaraka 'alayka,
        wajama'a baynakumaa fii khoir...

        "Semoga Allah memberi berkah kepadamu dan atasmu
        serta mengumpulkan kamu berdua [pengantin laki-laki dan perempuan]
        dalam kebaikan"

NB: Nasyid ini bisa didenger di MP saya sinih.. 

Hmm.. akhir-akhir ini pembicaraan tentang jodoh dan pernikahan menjadi salah satu topik yang amat menarik dibahas oleh orang-orang terutama yg masih lajang dan seusia denganku.. Tak hanya teman-teman di sekitarku namun juga temen-temen nge-blog di MP (Multiply) pun lagi seru-serunya bahas ini. Rata-rata postingan mereka all about jodoh, nikah ataupun cinta.. Sebenarnya aku tak begitu mengerti tentang konsep jodoh. Bagiku itu adalah sebuah misteri. Hanya Allah-lah yang Maha Tahu masa depan seperti apa yang akan kita jalani selanjutnya dan dengan siapa nanti kita akan bersanding mengarungi bahtera hidup. Well, aku tak pernah bisa membayangkan siapa dan bagaimana rupa pangeranku kelak (ehm..!!) dan memang tak perlu dibayangkan bukan… Psssst…. kalau dibayangkan bisa-bisa zina hati!!! Hati-hatilah, syaitan amatlah lihai memasuki hati para manusia lajang dan membangun istana cinta di dalamnya. Membangun harapan-harapan semu dan membuat kita akan selalu berharap ’seseorang’ untuk menjadi jodoh kita. Lalu bila kita sudah terlanjur menaruh harapan terlalu tinggi pada seseorang tersebut, apa benar akan ikhlas bila dia ternyata bukan seseorang yang dipilihkan-Nya untuk kita???

(lebih…)