Maret 2009


Beberapa waktu belakangan saya dibayang-bayangin sama nasi bakar. Liat status Facebook Mbak Lulu Basmah (Bunda Athira) ada nasi bakar sumsum, baca majalah IIDI mama saya ada bocoran resep nasi bakar ayam jamur, trus juga pas asyik blogwalking nemu postingan kuliner tentang nasi bakar yang ada di Bogor dan Bandung… Deuh,, semakin pengen makan nasi bakar jadinya.. Pernah sih dulu *sekitar dua tahun yang lalu* saya mencoba mencicipi nasi bakar ati ampela di salah satu resto Sunda yang ada di Surabaya. Tapi agak kurang terasa gitu sih gimana uniknya rasa nasi bakarnya karena dimakan bareng sayur asem. Ah,, nyesel juga napa makannya pake dicampur kuah sgala.. hehehe.. Jadi pengen jalan2 ke bandung or Bogor, hiks… Pengen wisata kuliner disana. Tapi kapan yah… 🙄

Daripada mupeng bin ngiler mlulu sama nasi bakar,,,, akhirnya hari Sabtu pagi ini saya pun berhasil mewujudkan keinginan untuk menghadirkan hidangan nasi bakar di rumah.. Dengan cara apa? Pergi jauh-jauh ke Bandung sono buat beli? atau delivery service ke resto Sunda yang ada di Surabaya? Hehehe… 😆 ya enggaklah,, ngapain susah-susah beli jauh-jauh, mahal pula.. Trus gimana tuh? Bikin sendiri dong. Lebih mur-mer lagi. Metik daun pisang di kebun belakang rumah, memeras santan dari buah kelapa, memetik daun pandan.. dan ngubek-ngubek dapur 😛 Klutik-klutik.. Tarra!! Jadi deh.. Nasi bakar daging. Pengennya sih make jamur kancing, tapi berhubung nggak ada jamur, ya sudlah,, kapan-kapan aja kalo da niatan bikin lagi saya musting hunting ke pasar.

Awalnya saya mau bikin nasi bakar ala resep majalah IIDI-nya mama or browsing resep di internet. Tapi kagak jadi niruin resep-resep itu,, cm sekilas ngeliat aja trus mama menyarankan dagingnya dibumbu opor saja, dan nasinya nanti dicampur santan. Hmmm,, ide yang bagus. Toh resep-resep yang kuperoleh dari hasil browsing pun juga bervariasi, ada yang nasinya dicampur santan, ada yang make mentega, trus ada pula yang diberi kaldu ayam atau daging, bahkan yang paling simpel make irisan bawang merah. Tergantung selera dan ketersediaan bahan . Yang pengen mencicipi.. Monggo dipun dahar (Silakan dimakan) atau Wilujeng Tuang ya *sotoy* :mrgreen: Enak lho.. 😉 apalagi dihidangkan bareng emping melinjo, lalapan timun dan sambal terasi. Hmmmmmm….

Yuk dicoba sendiri di rumah… ^^

Nasi Bakar Daging


Bahan

Opor Daging:

250 gram daging sapi, dipotong kecil-kecil

200 ml santan kelapa

Bumbu opor:

5 buah bawang merah

5 buah bawang putih

6 buah kemiri

1 sdt merica

Jinten sedikit

Asam Jawa sedikit

1 sdt garam

1 sdm gula

3 cm jahe, memarkan

1 batang serai

2 lembar daun jeruk purut

2 buah daun salam

Nasi:

500 gram nasi hangat

150 ml santan kelapa

1 buah daun pandan

½ sdt lada bubuk

½ sdm garam

Daun pisang

Cara Membuat:

  1. Haluskan bawang merah, bawang putih, kemiri, merica, jinten, asam jawa, garam dan gula.
  2. Panaskan minyak penggorengan, tumis bumbu, masukkan jahe, serai, daun jeruk purut, dan daun salam. Aduk-aduk hingga harum.
  3. Masukkan potongan-potongan daging sapi ke dalam tumisan bumbu, aduk-aduk hingga daging matang.
  4. Masukkan 200 ml santan ke dalamnya dan biarkan hingga santan meresap ke dalam daging, angkat.
  5. Panaskan santan kelapa yang telah diberi daun pandan, sisihkan.
  6. Campur nasi hangat dengan santan, tambahkan lada dan garam, aduk-aduk hingga rata dan sisihkan.
  7. Ambil dua lembar daun pisang, taruh sekitar 100 gram nasi, satu sendok makan opor daging, bila ada tambahkan daun kemangi, bungkus bentuk seperti lontong.
  8. Kukus dalam dandang panas selama 15 menit.
  9. Panggang di atas bara api hingga daun mengering.
  10. Sajikan hangat.

Untuk 5 porsi jumbo ^^

Penulis: Ummu Rumman Azzahra Muroja’ah: Ustadz Nurkholis, Lc.

“Ukh, bingung nih mau masak apa buat suami. Ibu saya tadi datang bawa terong, tapi sayang bingung, terongnya harus diapain. Emang terong bisa dimasak apa aja sih, Ukh? Saya nyesel kenapa nggak dari dulu belajar masak…”

Kejadian di atas dialami salah seorang sahabat penulis seminggu pasca-menikah. Berangkat dari kejadian tersebut, penulis merasa perlu berbagi pengalaman bahwa memasak ternyata punya peran tersendiri dalam sebuah rumah tangga. Mungkin kejadian di atas tidak perlu membuahkan masalah jika si istri ternyata piawai dalam hal masak-memasak. Namun, bagaimana dengan mereka yang mengenal bumbu dapur saja tidak bisa?
Pentingkah Memasak?

Memasak merupakan aktivitas yang banyak dilakoni oleh para wanita sejak turun temurun. Meski sekarang tidak sedikit pula laki-laki yang handal memasak, namun dalam kehidupan rumah tangga, memasak tetap harus diperani oleh wanita. Sekilas kita lihat aktivitas ini mungkin sangat remeh-temeh. Tetapi pada prakteknya tidak akan semudah itu. Orang yang mengaku bisa masak pun terkadang suka dihampiri rasa tak percaya diri ketika masakannya harus dicicipi orang lain. Maka tidak heran jika para pengamat seni menempatkan masakan sebagai karya seni yang paling berharga di antara semua karya seni lainnya.

Begitu pentingnya memasak hingga tak jarang kita jumpai banyak orang yang terkagum-kagum dengan seseorang yang menguasai bidang ini. Pun seorang istri yang pintar masak. Dengan keahliannya tersebut akan membuat suaminya betah di rumah dan malas membeli makan di luar. Masakan yang enak bisa menjadi salah satu perekat cinta seorang suami kepada istrinya. Bahkan memasak untuk menyenangkan suami bisa menjadi ladang pahala jika diniatkan untuk ibadah kepada Allah. Karena salah satu ciri istri shalihah adalah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memenuhi semua hal yang disukai suaminya selama tidak dalam bermaksiat kepada Allah.

Memasak Sebagai Ladang Pahala

Saudariku –yang semoga senantiasa dirahmati Allah- apakah kalian menyadari bahwa kegiatan memasak ini ternyata bisa sekaligus menjadi kegiatan ibadah? Sebagai seorang muslimah kita diamanahkan untuk bertanggung jawab atas rumah kita dan menyiapkan makanan kepada semua orang yang ada di dalamnya. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang kepemimpinannya. Penguasa adalah pemimpin, seorang laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya, wanita adalah pemimpin atas rumah suaminya dan anak-anaknya. Jadi, setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang kepemimpinannya.” (HR. Bukhari)

Untuk itu tidak ada salahnya bagi seorang muslimah untuk menyiapkan santapan bagi keluarganya sebaik mungkin, demi melayani hamba-hamba Allah yang shalih, semisal suami, anak-anak, orang tua, dan semua orang yang ikut menikmati masakan yang kita masak. Dengan begitu, seorang muslimah akan ikut mengecap pahala yang Allah berikan kepada mereka, di mana sebenarnya kita sudah ikut membantu amal perbuatan mereka.

Memasak tidak hanya sekedar kegiatan meramu bumbu dan bahan makanan hingga terciptalah masakan lezat yang siap santap. Namun memasak juga bisa menjadi media kita untuk memikirkan dan mensyukuri semua nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Jika kita cermati, semuanya adalah rezeki yang telah Allah tentukan kepada kita. Karunia tersebut terlimpah dengan begitu mudah kepada kita setelah melalui proses campur tangan banyak orang.

Kita perhatikan saja sayur-sayuran yang kita santap. Akan kita dapati bahwa di sana ada yang menanaminya, ada yang mengumpulkan panennya, ada penjualnya, serta masih banyak lagi manusia yang berperan di dalamnya. Mereka dijadikan oleh Allah untuk melayani kita dan anggota keluarga kita. Padahal pada hakikatnya Allah-lah yang menanam dan menghidupkan sayuran tersebut sebagaimana firman-Nya, yang artinya,

“Pernahkah kamu perhatikan benih yang kamu tanam? Kamukah yang menumbuhkannya ataukah Kami yang menumbuhkan?” (Qs. Al Waqi’ah: 63-64)

Begitupun dengan nikmat yang lain yang banyak kita jumpai di meja makan kita. Allah berfirman mengenai hal ini, yang artinya,

“Dan dari langit Kami turunkan air yang memberi berkah, lalu Kami tumbuhkan dengan (air) itu pepohonan yang rindang dan biji-bijian yang dapat dipanen. Dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang tersusun-susun, (sebagai) rezeki bagi hamba-hamba Kami……” (Qs. Qaf: 9-11)

Adapun dalam memasak, hendaklah kita usahakan memasak berdasarkan apa yang menjadi kesukaan suami dan anak-anak serta keluarga kita. Ini semua dilakukan dengan harapan dapat membuat suami dan keluarga bahagia, demi wujud ketaatan kita kepada Allah. Cobalah tanyakan kepada mereka makanan apa saja yang mereka sukai, jika cara tersebut bisa menyenangkan mereka.

Kadang kita dapati seorang suami ternyata lebih pintar memasak daripada istrinya. Jika hal ini yang kita alami, janganlah merasa malu untuk belajar dari suami kita. Kita juga bisa menggunakan momen memasak bersama sebagai kesempatan untuk bercengkrama dengan suami sehingga terciptalah suasana kemesraan yang akan menambah rasa cinta di hati masing-masing.

Mari Memulainya dari Dapur

Saudariku, sebagai seorang muslimah yang ingin selalu meraih ridha Allah di setiap kesempatan, maka kita bisa memanfaatkan waktu-waktu kita di dapur untuk menjadi sarana mendekatkan diri kita kepada-Nya.

Berikut ini hikmah-hikmah yang bisa kita gali dari aktivitas memasak kita sehari-hari:

  1. Saat masakan kita telah matang, maka hadirkanlah dalam benak kita betapa Allah telah menganugerahkan kepada kita nikmat untuk bisa menyelesaikan pekerjaan kita.
  2. Saat memasak, cobalah untuk mengingat bahwa di luar sana masih banyak dapur-dapur yang tidak mengepul. Alangkah indahnya jika kita biasakan untuk selalu mengingat nasib fakir miskin, anak yatim, dan orang-orang yang membutuhkan yang ada di lingkungan tempat tinggal kita. Jika memungkinkan, kita bisa menyisakan sedikit dari jatah makan kita untuk mereka sebagai bentuk kepedulian kita terhadap mereka.
  3. Ketika mencium aroma sedap masakan kita, saat itu ingatlah tetangga kita. Sebab bisa jadi tetangga kita juga turut mencium aroma masakan tersebut. Akan lebih baik lagi jika kita menghadiahkan sebagian masakan tersebut kepada mereka, khususnya untuk masakan-masakan spesial yang kita masak. Dengan hal ini akan mengakibatkan tumbuhnya rasa cinta, saling menghargai dan memperbaiki hubungan tetangga.
  4. Dampak yang bisa kita peroleh dari sini adalah tetangga kita akan menghormati dakwah ini. Inilah di antara sarana yang paling sukses dan paling sederhana untuk memperkuat tali hubungan sosial dan menyuburkan sensitivitas perasaan hati kita. Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hendaklah kalian saling memberi hadiah, maka kalian akan saling mencintai.” (HR. Bukhari)
  5. Bagi yang sudah memiliki anak, mulailah untuk membiasakan mereka untuk ikut serta membantu kita memasak. Misalnya bisa dengan mempersiapkan bahan-bahan memasak, sehingga mereka benar-benar terampil. Di samping untuk mengenalkan apa-apa yang ada di dapur, hal ini juga untuk membuat mereka turut merasakan beban berat yang kita pikul. Sehingga mereka akan memberi penghormatan dan akan mudah memahami diri kita.
  6. Ketika mengunjungi kerabat dan teman-teman dekat, kita bisa memilih masakan karya kita sendiri sebagai oleh-oleh untuk mereka.

Terakhir, sebelum melakukan kegiatan memasak, ada aktivitas lain yang biasa sering kita lakukan yakni berbelanja di pasar. Bila kita cermati, kegiatan belanja ini bisa kita gunakan sebagai perkenalan dengan para penjual langganan kita. Ini juga sebagai sarana untuk menjalin tali persaudaraan dengan mereka, atau sebagai bentuk interaksi kita dengan masyarakat, dengan catatan kita tetap harus memperhatikan adab-adab berinteraksi dengan penjual. Kesempatan ini bisa pula menjadi sarana dakwah kita kepada mereka. Di sela-sela interaksi dengan mereka, kita dapat mengenalkan hal-hal yang halal dan haram dalam masalah jual beli, dan hal-hal lain yang mungkin sering dipertanyakan banyak orang.

Mulailah Belajar

Bagi sebagian yang lain, memasak mungkin menjadi masalah bagi mereka. Ada beberapa faktor yang membuat seorang muslimah enggan untuk memasak. Salah satunya adalah rasa malas untuk belajar, di samping juga faktor kesibukan di luar rumah serta banyaknya warung makan yang menawarkan jasa catering untuk mereka yang tidak sempat memasak.

Jika hal tersebut berlangsung terus menerus apakah tidak boros? Bagaimana jika suami atau anak-anak berkeinginan mencoba hasil masakan kita. Apa kita masih akan memilih makanan dari luar terus? Tentu kita tidak ingin seperti itu. Untuk itu, bagi yang belum pintar masak, buanglah rasa malas dan teruslah berlatih. Setelah terbiasa, nanti akan terbukti bahwa memasak itu bukanlah hal yang sulit, apalagi jika diniatkan untuk ibadah.

Untuk memasak kita memang akan sedikit repot. Mempersiapkan segala sesuatunya, dari perapian, peralatan sampai bahan, belum nanti jika sudah selesai harus membersihkan atau membereskan semuanya. Agak melelahkan memang. Namun kelelahan itu akan segera berganti kebanggaan dan kebahagiaan ketika suami dan anak-anak kita menyantap masakannya dengan lahap.

Nah, bagaimana saudariku? Semoga tulisan ini bisa bermanfaat untuk kita semua, terutama bagi penulis sendiri. Kita memohon pertolongan Allah agar selalu memberi kita kemudahan dalam menunaikan tugas-tugas kita sebagai muslimah. Allahu Ta’ala a’lam.

Maroji’:

1. Inilah Kriteria Muslimah Dambaan Pria (terj.), Abu Maryam Majdi bin Fathi As-Sayyid, Pustaka Salafiyyah.

2. Manajemen Istri Shalihah (terj.), Muhammad Husain Isa, Ziyad Books Surakarta.

3. Majalah Nikah vol. 5, No. 11 Edisi Muharram 1428 H. ***

Artikel http://www.muslimah.or.id

Saudariku…. inginkah kau menjadi wanita mempesona?

Inginkah kau menjadi sebaik-baik perhiasan dunia?

Inginkah kau menjadi pemimpin para bidadari surga? 🙄

Jika kau menginginkannya, renungilah puisi ini… dan tanamkan dalam benak kita,, semoga kita bisa mengamalkannya, Amiiin… 😥

Engkau dengan kecantikanmu menjadi lebih mempesona dibandingkan matahari
dengan akhlakmu menjadi lebih harum dari minyak wang
dengan tawadhu’mu menjadi lebih indah dari bulan purnama
dan kelembutanmu menjadi lebih sejuk daripada hujan..
Maka
jagalah kecantikanmu selalu dengan keimanan
jagalah rasa puas dengan sikap qana’ah
jagalah kehormatanmu dengan hijab
dan ketahuilah bahwa perhiasanmu bukannya emas, perak, dan permata
akan tetapi dua rakaat pada shalat malam
kehausan dalam berpuasa
sedekah yang dilakukan dengan diam-diam
dan tidak diketahui oleh siapapun kecuali Allah SWT
air mata yang berlinang yang menghapus dosa, sujud panjang di atas sejadah, serta rasa malu kepada Allah SWT untuk memenuhi ajakan setan dan bisikan kejahatan..
Maka
kenakanlah pakaian ketakwaan
engkau akan menjadi wanita paling cantik di dunia.. (al-Qarni 2005: 64)

Sumber:
al-Qarni, AA. 2005. Tips menjadi muslimah paling bahagia di dunia. Terj. dari As’adu imra’atin fii al-‘aalam oleh Ahmad Faris Sufi. Pustaka Hikmah Perdana. Surabaya.