Hmm.. akhir-akhir ini pembicaraan tentang jodoh dan pernikahan menjadi salah satu topik yang amat menarik dibahas oleh orang-orang terutama yg masih lajang dan seusia denganku.. Tak hanya teman-teman di sekitarku namun juga temen-temen nge-blog di MP (Multiply) pun lagi seru-serunya bahas ini. Rata-rata postingan mereka all about jodoh, nikah ataupun cinta.. Sebenarnya aku tak begitu mengerti tentang konsep jodoh. Bagiku itu adalah sebuah misteri. Hanya Allah-lah yang Maha Tahu masa depan seperti apa yang akan kita jalani selanjutnya dan dengan siapa nanti kita akan bersanding mengarungi bahtera hidup. Well, aku tak pernah bisa membayangkan siapa dan bagaimana rupa pangeranku kelak (ehm..!!) dan memang tak perlu dibayangkan bukan… Psssst…. kalau dibayangkan bisa-bisa zina hati!!! Hati-hatilah, syaitan amatlah lihai memasuki hati para manusia lajang dan membangun istana cinta di dalamnya. Membangun harapan-harapan semu dan membuat kita akan selalu berharap ’seseorang’ untuk menjadi jodoh kita. Lalu bila kita sudah terlanjur menaruh harapan terlalu tinggi pada seseorang tersebut, apa benar akan ikhlas bila dia ternyata bukan seseorang yang dipilihkan-Nya untuk kita???


Seorang teman dekat (sebut saja N) pernah menangis di hadapanku. Dia berkata andai ternyata orang yang dicintainya itu bukan jodohnya, dia tak tahu harus bagaimana. Dia belum bisa ikhlas. Dia selama ini sudah sering membayangkan bagaimana seandainya bila S yang juga adalah temanku, menjadi suaminya. Aku agak kaget juga,

”Haaah… kamu bisa membayangkan jika dia udah jadi suamimu?”

”Yah, bisa… bahkan bila aku melahirkan anaknya pun aku bisa membayangkannya”

Oooow…. heeee…hee..hee aku agak meringis.

”Emang kamu nggak pernah bayangin lagi berduaan sama seseorang?? Atau berandai-andai seseorang menjadi suamimu? Bermimpi kamu melayaninya…”, tanyanya padaku.

Weeeitss… Aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat. Nggak pernah!!! Naudzubillah.. itu zina hati… apalagi aku cewek, aku nggak pernah mimpi yang gitu-gitu.

”Aduh, sahabatku.. syetan udah berhasil menjelma sesuai dengan apa yang kamu pikirkan . Banyak-banyak berdoa dan minta perlindungan sama Allah yah… Kalau puasa saja nggak kuat menahan hasrat tersebut berarti sudah kewajibannya lho kamu nikah… ”, pesanku.

”Dia itu baik..”, katanya lagi.. ”Dia rajin beribadah, alim, pasti dia bisa jadi imam yang baik buat keluarga dan bisa membimbingku… Tapi NIKAH??? Bapakku belum membolehkanku untuk menikah. Katanya percuma dong aku kuliah kalo pada akhirnya belum jadi sukses malah larinya ke dapur. S juga mana mau menikah dalam waktu dekat. Wong mas-masnya aja belum nikah.. Pasti masih lamaaa…

“Jangan mempersepsikan nikah seperti itu… Berilah penjelasan secara baik-baik mengenai apa sebenarnya hakikat menikah itu sendiri. Kita tetep bisa jadi orang sukses kok walopun kita jadi istrinya orang atau kembali ke dapur. Kalau suami mengijinkan kan juga tetep bisa kerja. Asal tak membiarkan urusan rumah tangga terbengkalai. Tau tanggung jawab dan kewajiban-lah..”. Aku pun melemparkan pertanyaan padanya,

”Atas dasar apa kamu menyukainya? akhlak dan agamanya khan??”

”Yah, aku mencintainya karena Allah”

”Hmmm… Temanku sayang, tahukah kamu.. Jika kamu mencintainya dengan tulus karena Allah itu artinya dia bisa membawa pengaruh yang baik buat kamu. Semakin mendekatkanmu pada Allah. Dan satu hal yang harus kamu ingat… Kamu ikhlas dengan segala ketetapan Allah. Jika memang dia yang dipilihkan Allah buatmu, bersyukurlah berarti dia jodohmu. Tapi bila bukan… Kamu kudu ikhlas. Berarti ada orang lain yang menurut Allah lebih pantas untuk mendampinginya. Insya Allah Dia telah mempersiapkan pangeranmu. Entah itu S ataupun bukan, hanya Allah yang tahu.. dan juga apakah kita akan dipertemukannya di dunia ini ataukah di akhirat kelak. Yakin deh, jodoh kita tak akan tertukar. Dan kamu juga jangan terlalu memperturutkan nafsu atau keinginanmu. Syetan itu pandai banget lho mengambil ’kelengahan’ kita untuk menjerumuskan ke hal-hal yang dilarang sama Allah.”, terangku (kok jadi bijak mode-on giniii ya.. ).

”Belajarlah ilmu ikhlas, Wahai Sahabatku..”, pesanku sambil menghapus air matanya.

Diapun terdiam, mungkin saja dalam benaknya dia sedang mencerna kata-kataku, setelah itu ia berpelukan denganku sambil terisak.. lalu tidur. Kok mellow kayak di film-film gini ya, hehe.. Aku yang kebetulan menginap di kamarnya kemudian diam merenung.. belum bisa memejamkan mata. Kuliat jam dinding, hoh, jam sepuluh malam.

Ya, Allah jagalah pula hatiku untuk selalu mengingat-Mu…!! Biarkan hanya Cinta untuk-Mu lah yang jadi The Number One in My Heart..

Lalu kuambil Al-Quran terjemahan milikku dan mentaddaburi makna yang terkandung dalam beberapa surat yang kubaca. Setelah itu aku pun beranjak tidur.

***********************

Jodoh… Hmm.. lagi-lagi jodoh.. Aku pernah membaca buku Mars & Venus on a Date–nya John Gray. Aku menemukan kata-kata yang menyatakan bahwa ketika sepasang pria-wanita merupakan jodoh, maka jiwa mereka akan saling mengenali. Akan muncul getaran dalam jiwa mereka.. Walau sebenarnya kita akan merasakan seringnya terjadi getaran saat kita sedang jatuh cinta pada seseorang. Namun getaran pada jodoh itu beda… Belum tentu orang yang berpacaran adalah jodoh. Dan bertemunya jodoh itu tidak bisa disangka-sangka atau direncanakan. Kalau memang sudah ditakdirkan pada suatu saat yang tepat (telah diatur oleh Tuhan) kita dipertemukan dengan jodoh kita, mungkin kita tak akan menduganya bahwa saat itulah kita bertemu dengannya. Orang-orang yang menikah dengan bahagia seringkali mengatakan bahwa mereka menemukan jodoh mereka ketika mereka tidak sungguh-sungguh mencarinya. Hmm.. betulkah? Contoh: Seseorang bertemu dengan jodohnya waktu dijebloskan ke penjara. Nah.. Lho?? Ketika disitulah dia malah bertemu dengan seorang polisi wanita yang ternyata adalah jodohnya. Setelah bebas dari penjara mereka menikah. Seandainya dia tidak masuk penjara apa akankah bertemu? Menurutku semua itu adalah skenario-Nya. Manusia tak pernah tahu..

Well, aku juga pernah sekedar ngobrol-ngobrol dengan kakak iparku (istrinya sepupuku). Dia bercerita bertemu jodoh itu rasanya beda dengan pacar atau orang-orang yang pernah masuk dalam episode hidupnya.

”Bedanya apa, Mbak..??”, tanyaku.

”Tak bisa dideskripsikan…, hanya hati dan jiwa kita yang merasa.. Inikah jodohku.. Benarkah dia.. itu saat hati kita penasaran.. Pokoknya rasanya beda Dek dengan rasa yang biasanya Mbak rasakan dengan orang-orang sebelumnya.”

”Nanti deh kalo udah nikah baru tau dan menyadari hal itu..Oh, ternyata ini jodohku, gitu hehe..”, katanya lagi.

”Mbak pakai istikharah atau minta pendapat sama Allah??”

”Tentu Dek.., Mbak pun mencoba istikharah, jawabannya memang dia (masmu itu) dan muncul sekilas dalam mimpi. Jadi penasaran khan.. ^_^. Dan ternyata sama Allah begitu dimudahkan prosesnya. Orang tua juga merestui ketika dia melamar. Dan nggak mau nunggu lama-lama, kami berdua pun menyegerakan menikah.”

”Subhanallah… ” Aku dan seorang saudaraku yang mendengarkan Mbak ipar tadi pun tersenyum-senyum.

”Hayoo.. kalian sudah merasa ketemu apa belum?”, tanya Mbakku itu.

”Yaaah, ndak tau lah Mbak.. itu khan juga rahasia Allah hehehe.. ntar kalo dah nikah khan baru tau.. oalaaah,, ternyata kamu toh jodohku, hahaha…”, jawab kami sambil bercanda..

***********************

Menurutmu apakah sebenarnya definisi jodoh itu???

I think.. jodoh itu adalah orang yang dipilihkan oleh Allah buat mendampingi kita menjalani salah satu episode kehidupan yaitu pernikahan. Jodoh memang misteri. Kita tak bisa menebaknya sampai akhirnya ikatan halal yang telah di-sah-kan oleh Allah mengikat diantara keduanya. Mitsaqan Ghalidza. Janji dihadapan Allah…Jadi selama masih pacaran (tapi maaf saya tidak pacaran dan tak mau menempuh jalan itu), komitmen atau janji muluk-muluk yang belum pasti bukanlah penjamin seseorang itu adalah jodoh kita. Belum tentu. Semua punya hak untuk berusaha mendapatkan jodohnya. Dan yang Maha Pemberi Ketetapan itu adalah Allah. Jodoh kita bisa siapa saja.. Bisa jadi ternyata adalah orang yang kita kenal atau bisa juga malah nggak kenal sama sekali. Wallahu’alam.. Manusia bisa bertemu dengan jodohnya bila dia berusaha dan berdoa. Qta ingin orang yang menjadi pasangan kita adalah orang yang punya kualitas baik, maka kita pun harus memperbaiki diri kita agar juga berkualitas baik. Terutama dalam kualitas agama. Itu poin terpenting jika ingin selamat dunia-akhirat, janganlah terbutakan memilih seseoranghanya karena oleh rupa, kekayaan, kepintaran atau keturunan. Embel-embel lain dibelakangnya itu adalah bonus jika Allah memberikan rejeki seseorang dengan kriteria mendekati sempurna seperti itu kepada kita. Janganlah memilih orang berakhlak seperti Ali jika kau belum bisa setangguh Fatimah. Atau bahkan berakhlak semulia dan sesempurna Nabi Muhammad jika kita sendiri belum bisa seperti Khadijah atau Aisyah..

Aku jadi teringat perbincanganku dengan seorang teman ikhwan yang nggak seberapa ikhwan (dia sendiri yang ngaku kayak gitu, lho, he.. Aneh pisan!!), sebut saja R, beberapa hari yang lalu. Dia sebenarnya sudah memiliki kecenderungan hati pada seorang gadis. Dan kebetulan aku kenal baik dengan sang gadis.. (Lha wong sang gadis adalah sahabatku juga). Aku hanya memperingatkannya, ”Hati-hatilah membawa hati. Jangan sampai terjerumus pada pacaran.” Aku yakin dia paham sekali dengan hal seperti itu dan tahu batasnya. Dia mengiyakan pernyataanku mengenai apabila sedang menyukai seseorang (lawan jenis), tak perlu untuk mengungkapkan langsung padanya (baca:nembak), bila memang sudah siap, langsung melamarnya saja. ”Sepakaaaaaat!!”, jawabnya.. ;) Hingga sekarang dia berteman baik dengan sang gadis (yang katanya) untuk menyelami kepribadiannya dan menjalin silaturahmi.

Aku tersenyum, ”Kamu sampai sekarang tetap berteman dengannya..?”

”Yah, semoga saja Allah tetap menghendaki agar kami tetap berteman baik seperti ini”, katanya. R bercerita padaku bahwa dia tak pernah menyatakan perasaannya tapi hanya sekedar memberikan wacana untuk menilai apakah R kira-kira nanti akan diterima ataukah tidak oleh sang gadis (bingung juga maksude piye…)

”Kapan tuh,, lama dong ya.. Jangan lama-lama..”, kataku..

”Dua tahun lagi mungkin aku akan memintanya langsung ke rumahnya. Minta restu pada kedua orangtuanya.” Kemudian dia melanjutkan lagi, ”Hmm.. tapi bila sudah keduluan orang ya berarti aku bukan jodohnya. Yang terpenting sekarang aku sedang berusaha memperbaiki diriku. Dia adalah orang yang baik, jadi akupun harus jadi orang yang baik. Bukankah Allah sudah berjanji orang yang baik akan dapat pasangan yang baik pula.” Aku meng-amin-kan.

”Kita harus berusaha dan berdoa, ketetapan akhir tetaplah di tangan Allah.”, katanya lagi.

Yup… semoga Allah memberikan yang terbaik buatmu, Sahabatku… -)

Asalkan kau tahu batasnya dan tak terlalu menaruh harapan besar yang membutakanmu. Jangan sampai mengalahkan perasaan cintamu pada Allah…

Aku ingat akan planning yang pernah R susun beberapa semester dahulu sebelum lulus kuliah. Aku dan beberapa teman yang membacanya agak takjub dengan perencanaannya itu.

Tahun depan: Skripsi, lulus kuliah alias wisuda, Amiiiin… (terkabul!)

Tahun kedua: Dapat kerja (terkabul!) danmemberi nafkah pada ibu dan menyekolahkan adik-adik.

Tahun ketiga: Memperbaiki rumah dan bila sudah siap Insya Allah menikah.

Tahun keempat: Punya Anak.

Trus ada teman yang nyeletuk, ”Wah, R.. sapa tuh calon istrinya?”

”Aku juga belum tau. Rahasia-nya Allah!”, jawabnya sambil agak tersipu-sipu…

Deuh…

^___^

Aku berpikir untuk diriku sendiri.. Kalo aku gimana ya?? Waduh,, sensitif nih urusan beginian. Nggak mau bahas ah.. Hehe..

Wallahualam…

Namun dalam lubuk hati ini sedang mempersiapkan diri dan keikhlasan untuk menerima’nya’ yang telah dipilihkan Allah untukku suatu saat nanti.

Ada sebuah quote cukup menarik, tapi lupa sumbernya darimana..

Menikah itu menjanjikan pahala yang tiada putus-putus bagi yang menjadikannya

gelanggang untuk mengukuhkan iman, mencintai Tuhan dan menjadikan surga sebagai tujuan.

Menikah itu penutup dari ketidaksempurnaan insan kepada kesempurnaan insan lainnya bagi yang mengetahui rahasia-rahasianya.

Menikahlah anda demi Tuhan dan Rasul-Nya, bukan menikah karena perasaan dan menuruti kebiasaan.

Jodoh tak perlu terlalu dirisaukan, tiba masanya ia akan datang menjemput, namun anda juga perlu membuka lorong-lorongnya agar jemputan itu mudah sampai dan tidak terhalang.

^_^ Naaah,,, aku setuju banget ma quote tersebut!! Nggak perlu risau, sabar aja…Waktunya udah ditetapin kok sama Allah. Dan yang nggak kalah penting.. Membuka jalan bagi sang pangeran kita yang telah dikirim oleh Allah agar mudah menjemput kita.

Jodoh memang di tangan Allah, tapi masa tetap pasrah dibiarin di tangan-Nya begitu saja.. nggak berusaha diambil??

Ya kudu berusaha dunk…

Trus dengan jalan apa???

Perbaikan kualitas iman, perbaikan diri dan perbanyak teman!! Sapa tau jodoh kita nyelip satu diantaranya. Atau malah ada teman atau orang yang jadi salah satu penunjuk jalan/ perantara dimana jodoh kita berada. Betul nggak?? Tapi jangan diniatin apa-apa yang kita lakukan itu adalah dalam rangka mencari jodoh. Seperti begini nih, aku beribadah tekun ah biar dapet jodoh.. atau ah, aku banyak-banyakin berteman dengan lawan jenis biar ntar ada yang kesengsem sama aku. Waduuuuh.. kalo itu mah niatnya sudah salah atuuuh… Niatkanlah semuanya karena Allah.. jangan karena hal-hal yang bersifat keduniawian, Ok?!

So, apa pendapat anda mengenai jodoh??

udah married

udah married

NB: Mohon maaf untuk beberapa kasus yang telah disebutkan diatas, bukan bermaksud menceritakan pengalaman orang untuk di-share ke publik namun disini hanya berniat untuk mengambil hikmah dari suatu contoh kasus. Nama sebenarnya telah disamarkan ;)

Tulisan ini juga kuposting di MP