Aku dilahirkan dua puluh tiga tahun yang lalu di Mojokerto tepatnya di RS. Gathoel. Mama harus berjuang keras untuk melahirkanku. Antara hidup dan mati… karena aku tak segera juga mau keluar dan beliau harus merasakan perjuangan itu selama 3 hari. Bersyukur akhirnya di malam takbiran itu, aku, putri pertama mereka, bisa lahir dengan selamat.. Dan aku bisa membayangkan betapa lega dan bahagianya mamaku yang baru pertama kali merasakan menjadi seorang Ibu. Ayahku, kedua nenekku, dan seluruh keluarga besar kami menyambut Lebaran kali itu dengan penuh kebahagiaan. Subhanallah…

Kebahagiaan itu tak seberapa lama, disaat Mama masih senang-senangnya merawatku, beliau harus rela melepas kepergian ayah untuk kembali melanjutkan studinya di UGM Jogja yang belum selesai. Yah, ayahku memang menikahi mama ketika masih duduk di bangku kuliah. Bisa dibayangkan saat pengantin baru, mama diajak ayah jalan-jalan di Yogya muter-muter kampus dan diperkenalkan pada teman2 kosnya. .. seru banget sepertinya.. Dan disanalah mereka baru tau kalau Mama hamil muda karena muntah-muntah terus, hehe.. Lagi enak-enaknya makan gudeg, eh.. muntah.. Kasihan yah Mama.. Bawaan bayi nih. Selanjutnya mama pun tinggal dengan nenekku (kami memanggilnya Umi), sang ibu mertua dan menahan rasa rindunya pada ayah yang pulang dua minggu sekali. Belum genap usiaku mencapai 7 bulan, mama dinyatakan hamil lagi. Wuah.. belum selesai aku mendapatkan ASI dengan maksimal, adekku minta keluar juga ke dunia.. -P Tepat saat ayahku mau diwisuda dan pelantikan, pada saat itu pula mama melahirkan adikku ke dunia ini. Jadi detik-detik kelahiran adikku yang tepat pada tanggal 17 Agustus itu tak bisa disaksikan oleh Ayah. Beliau hanya mendengar dari keluarga besar kalau bayi yang dilahirkan mama adalah bayi laki-laki yang tampan sekali. Kulitnya putih bersih dan bermata sipit kayak anaknya orang Jepang. Jadinya panggilan waktu masih kecil dulu adalah Jepang, hehehe.. Dan karena kelahirannya di bulan Agustus, ia dinamakan Agus. Hmmm tak bisa membayangkan bagaimana repotnya mama merawat dua bayi sekaligus.

Poto kecilku (umur kurang lebih 1 th)

Poto kecilku (umur kurang lebih 1 th)

Si bayi Jepang (Agus) ketika umur 5 bulan
DSC01976

Ultahku ke 1 th (foto sama Umi alias nenek dan Budhe yg gendong sepupuku)

DSC01978

Ultahku pas bareng ma ultahnya Mbak Reni (tanggal 18) tapi selisihnya 7 th. Dari Ki-ka: Mbak Ira, Mbak Reni, Mbak Iin dan aku ^_^

DSC01980

Setelah umurku dua tahun, ayah mendapatkan tugas kerja ke luar pulau, yaitu di Kalimantan Barat. Otomatis kami pun ikut tinggal disana. Yup, walaupun waktu itu aku masih kecil tapi aku agak-agak ingat ketika mencicipi hidup menjadi anak Kalimantan. Pertamanya kami tinggal di desa bernama Mempawah. Disana kami tinggal serumah dengan seorang dokter dari Pulau Bali, Om Wayan, begitulah aku dan adikku memanggilnya. Beliau masih lajang dan sepertinya disukai oleh seorang gadis Kalimantan. Keluarga kami sering sekali mendapat kiriman masakan dari sang gadis tersebut. Hehe.. aku ingetnya nih pas makan-makan doang..

Trus entah berapa lama kemudian kami dipindah ke Purun. Rumah kami persis berhadapan dengan hutan ups.. ralat kebun tak terawat tepatnya (habis menurut pengamatan anak kecil imajinasinya itu adalah hutan sih) dan di belakangnya terdapat kebun singkong dan puskesmas. Ayah bekerja di puskesmas tersebut. Oh,ya disana aku dan adekku mengenal Om Budi, seorang dokter dari Jakarta yang juga masih lajang ketika itu dan tinggal serumah dengan kami. Beliau sering sekali membawakan oleh-oleh untuk kami dan mengajak bermain atau jalan-jalan. Disitu pula aku mengenal tetanggaku, Mbak Eka anak seorang bidan, seorang gadis kecil kelas 1 SD yang menjadi teman masa kecilku. Dia memanggilku Dede’ Vitri. Kami sering bermain boneka dan berlagak menjadi dokter dan pasiennya. Dia meminumkan obat-obat bubuk milik ibunya ke mulut boneka yang kuanggap sebagai anakku yang sedang sakit. Qe..qe..qe.. lucunya..😛 Selain itu kami juga sering bermain di kebun singkong. Hal yang jelas kuingat adalah kami sering sekali mendengar serigala (apa anjing hutan yah??) mengaum/ menggonggong di malam hari. Trus juga suara kapal yang lewat di sungai Kapuas yang mengalir di sela-sela pedalaman kebun (apa hutan???). O,ya aku juga ingat suatu ketika Umi (nenekku), Pakdhe dan Budhe serta kakak sepupuku yang tinggal di Jawa datang berkunjung ke rumah kami. Senangnyaa… jelas sekali terbayang saat Mbak Reni mengupaskan buah jeruk buatku dan bermain di kebun sekitar rumah sambil menggendongku.

Beberapa lama kemudian, ayahku pindah tugas ke sebuah desa bernama Jungkat. Disana kami tak tinggal serumah lagi dengan dokter lain. Hanya kami berempat saja.. uppss.. lupa bukan berempat, ortuku khan juga punya seorang pengasuh aku dan adekku. Rumah kami saat itu dekat dengan sungai dan kebun-kebun. Tepat di belakang rumah, ada puskesmas yang konon tidak punya kamar mayat. Hii.. tiap ada kecelakaan pastilah di tempatkan di belakang rumah. Serem yah.. tapi aku udah gak ingat lagi.. hanya dengar cerita serem-seremnya aja. Ayah dan adikku pemberani sekali lho.. Ayah sering tugas malam memeriksa atau mengautopsi mayat-mayat baru disitu dengan menggendong adek Agus. Ckk.. ckk.. ck.. makanya adikku sampe sekarang bisa tumbuh menjadi laki-laki yang pemberani. Kami juga bertetangga dengan Dek Ratih anaknya Dr.Yuliarti, gadis kecil seusia adikku yang menjadi teman sepermainan kami. Trus juga kami punya kakak bermain yang baik hati dan suka tertawa, Bang Kirin (anaknya Pak Abduh), tetangga sebelah yang punya tahi lalat besar di ujung telinganya. Sering banget ngajak berkelana ke ladang kacang hijau dan main di sungai. Hmmm… masa-masa yang indah. Namun bila aku disuruh untuk mengingat wajah orang-orang yang telah kusebutkan tadi mungkin aku tidak bisa. Jelas aku sudah lupa, namun nama-nama mereka tetap terpatri dalam hati. Sekarang kira-kira mereka semua ada dimana ya?? Mbak Eka, Dek Ratih, Om Wayan, Bang Kirin, keluarga Pak Abduh… Kalau Om Budi aku mendengar beliau sekarang tinggal di Jakarta dan praktek disana.

Andai mereka membaca blog ini, apakah masih ingat denganku??

Hal yang tak bisa kulupakan adalah saat-saat menunggu ayah pulang kerja sambil membawakan cokelat Silverqueen ukuran besar (jadi menyebut merk nih). Aku mendapat cokelat yang bungkusnya (tulisan maksudnya) berwarna merah dan Agus yang berwarna biru. Hasilnya adalah.. karena hampir tiap hari makan cokelat, gigiku menjadi bolong-bolong dan tumbuh tak beraturan. Hwkekeke.. Terus juga kami punya celengan ayam. Tiap mau berangkat kerja ayah memberi kami uang koin dan kami harus menabungnya dalam celengan kami. Tapi kadang-kadang kami nakal dan lari ke warung buat jajan. Hehehe.. Dan saat hari libur, ayah sering mengajak mancing di sungai atau jalan-jalan sekeluarga ke kota Pontianak. Asyiiik… naik perahu dan bisa main bom-bom car ke Supermarket!! Yup, desa tempat tinggal kami sebenarnya dekat dengan kota tapi harus menyeberangi sungai Kapuas yang luas dulu untuk sampai ke sana. Aku aja mengira sungai tersebut adalah lautan karena saking luasnya.. Atau terkadang kami rekreasi ke Singkawang, kota yang terletak di pegunungan dan berbatasan langsung dengan Malaysia.

Adek Agus main komidi putar di Pontianak
Adek Agus mainan komidi putar di Pontianak

Well, saat genap berusia 5 tahun, aku dipulangkan orang tuaku ke Jawa. Aku harus sekolah TK di Jawa. Seharusnya ketika berumur 4 tahun mereka menyekolahkan aku, namun mereka berpikir lebih baik aku bersekolah di Jawa saja karena lebih maju. Jadinya aku sekolahnya telat deh.. (liat saja sekarang, umumnya teman-teman sekolah dan kuliahku rata-rata kelahiran tahun ’86 dan aku lahir tahun ’85). Pada tahun 1990 tersebut aku pun berpisah dengan kedua orang tua dan adikku. Aku tinggal di rumah Umi dan bersekolah di TK Sacharosa (TK Pabrik Gula Krian). Di sana aku bermain dengan adik-adik sepupu (anak-anak Oomku yang serumah dengan Umi). Aku juga sering main ke rumah Budheku. Aku juga dekat dengan kakak-kakak sepupuku yang suka sekali meriasku. Terkadang kami main kemping-kempingan (berkemah), bermain dengan kucing peliharaan budhe atau umiku, masak-masakan atau foto-fotoan di studio foto milik Oomku sehabis aku dirias oleh mereka. Sesekali diajak pergi keluar kota, ke Cangar, Trawas, Malang atau main ke rumah besannya Umi (mertuanya Budheku). Masa kecil yang menyenangkan…

Tepat setahun kemudian, orang tuaku pulang dari Kalimantan. Aku bahagiaaaa sekali.. Aku menggendong adekku Agus dan memeluknya erat-erat untuk melepaskan seluruh rasa kerinduanku. Dan selesailah masa tugas ayahku di luar pulau. Beliau pun bekerja sebagai pegawai tetap di kabupaten Mojokerto dan mendapat ijin praktek di Mojosari (rumah nenekku dari mama). Namun begitu kami tetap tinggal di Krian, rumah yang kami tinggali hingga sekarang. Enam bulan setelah pulang dari Kalimantan, mamaku hamil anak ketiga. Pada tahun berikutnya aku pun punya adik bayi laki-laki yang lucu menggemaskan dan diberi nama Agung. Kalo inget ini rasanya ingin tertawa, aku dan Adek Agus sering berebut memperkirakan jenis kelamin bayi yang ada dalam kandungan mama. Aku pengen adek cewek sedangkan Agus pengen adek cowok. Hehehe… ternyata Tarrra!!!terkabullah keinginan adekku itu. Alhamdulillah..

I love my parents..

I love my brothers..

I love my big fam..

I love them coz Allah..

Alhamdulillah ^_^

Bayi Agung
DSC01975
Adek Agung usia 1,5 th

DSC01973
Adek Agus dan Agung

DSC01979
Agus (sekarang 22 th)

Adek Agus (Pas usia 21 th)
Agung (sekarang 16 th)
DSC01898