Mengemis Kasih yang dinyanyikan The Zikr (bisa diliat disini) merupakan nasyid pertama yang saya dengar saat masih baru duduk di awal bangku kuliah. Beberapa teman laki-laki seangkatan yang mulai ikut tarbiyah sering sekali menyenandungkan nasyid ini. Pertamanya saya yg ketika itu masih ‘awam’ jadi sedikit terbuka karena terbiasa mendengarnya dan pada akhirnya saya pun merenungi liriknya.. Masya Allah.. benar juga, dosa-dosaku menggunung tinggi T_T.. Oh, Tuhanku.. ingin sekali ku memperbaiki diri dan bertaubat.. Betapa besar nikmat yang kau berikan padaku.. Apa yg kubutuhkan selalu terpenuhi, aku punya keluarga utuh yang menyayangiku, dan apa yang engkau karuniakan padaku begitu banyak sedangkan disana masih banyak teman-teman yang lebih membutuhkannya. Sungguh betapa kurang bersyukurnya aku.. >_<
Perlahan tapi pasti akhirnya saya pun mulai menyukai nasyid. Saya juga sering baca-baca buku tentang keislaman.. diskusi dengan mereka yang lebih paham. Dikelilingi oleh teman-teman yang shalih. Kebetulan waktu itu saya bersahabat dengan Wina dan Marin. Kami pun diajak kakak-kakak kelas untuk ikut kajian dan ngaji. Pertamanya sih iseng-iseng aja nyoba.. toh, jiwa ini memang butuh siraman rohani. Namun seiring dengan waktu.. dan proses yang tidak sebentar, pintu hati ini mulai terbuka dan mulai merasakan cahaya-Nya menelusup ke dalam relung jiwa. Subhanallah…
Jujur saya bukanlah orang yang mudah begitu saja ikut-ikutan (baca: mbebek) dan tidak mudah langsung menerima atau terpengaruh. Saya selalu berusaha memilah dan mencerna ilmu yang saya dapat terlebih dahulu.. apakah memang sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah atau tidak. Dan bila memang itu tertuang dalam Al-Quran dan Sunnah saya mulai mengaplikasikannya dalam kehidupan. Toh, ilmu itu jangan hanya dipahami secara teori saja tapi kudu diamalkan dan dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.
Saya juga orang yang cukup terbuka terutama pada keluarga. Dengan sering berdiskusi dan bercerita dengan mereka, akhirnya mereka bisa menerima pemikiran dan aktivitas saya selama itu memang baik dan ada dalam koridor-Nya. Saya tak mau membuat mereka kaget atau berpikir ikut aliran-aliran tertentu. Pernah dulu mama bertanya, “Kamu kok sekarang suka pakai rok terus sih? Padahal waktu SMA dan awal kuliah dulu khan kamu modis pakai celana jins dan jilbab pendek. Terus sekarang celana-celana jins yang mama belikan nganggur dong…” Hehe.. saya tersenyum. Saya pun menjelaskannya dengan baik kenapa saya jadi agak berubah penampilannya. Saya pun juga menyebutkan dalil yang tertuang dalam Al-Qur’an (QS. An-Nur: 31) dan beberapa hadist. Tentunya keterbukaan ini cukup bermanfaat sekali.. Subhanallah.. Malahan sekarang mama suka membelikanku rok dan jilbab lebar yang cukup bagus, hehehe… ^____^ Begitu juga tentang prinsip pernikahan dan kriteria calon suami. Saya harus terbuka tentang hal ini (maklum umur udah diatas kepala dua, jadi cukup pantas jika kami berdiskusi tentang hal ini). Saya ngomong saya menginginkan suami yang shaleh, baik akhlaknya dan bisa menjadi qawwam yang baik bagi keluarga. Jadi ijinkan saya untuk tidak menempuhnya melalui pacaran atau hal-hal yang kurang syar’i yang tidak disukai olehNya. Saya juga Insya Allah mau kok dijodohkan (kalo saya belum nemuin dan calon yang ditawarkan pas). Bukankah jika menginginkan pernikahan yang barakah kita harus memulainya dengan cara yang baik dan disukaiNya. Seperti jika ingin mengail ikan yang bagus dan berkualitas, anda akan pilih di kolam yang jernih atau keruh? Jodoh yang benar-benar baik dan berkualitas apakah harus diperoleh dari pacaran? Tentunya tidak khan.. Tentunya jodoh berkualitas itu sendiri akan datang jika kita berusaha membuat diri kita juga berkualitas.
Intinya adalah proses perbaikan diri untuk meraih ridha-Nya menuju ke kampung akhirat yang abadi.

Yang terbaik diantara kita adalah yang banyak memberi manfaat untuk manusia lainnya. Mereka senang berbagi hidayah dan tak sungkan menolong yang lemah. Memperbaiki diri adalah usaha, dan usaha tidak boleh berhenti. Barang siapa berhenti, maka ia termasuk orang-orang yang terputus jalannya. Terputus dari rahmat Allah, dan tersesat menuju jalan lain. So Keep Istikamah !!… ^___^

“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya seperti sebuah lubang yang tidak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca, (dan) tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya diatas cahaya (berlapis-lapis), Allah Memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang Dia Kehendaki, dan Allah Membuat perumpamaan -perumpamaan bagi manusia. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. An-Nur: 35)