Bismillahirrahmanirrahim..

Setiap muslim pasti bercita-cita untuk mendapatkan cinta Allah. Sebab bila kita sudah menjadi kekasihNya, seluruh kebaikan duniawi dan ukhrawi bisa kita gapai dengan mudah.
Persoalannya, bagaimana agar cita-cita tersebut menjadi kenyataan? Sesungguhnya banyak cara yang bisa kita lakukan untuk menggapai cintaNya, diantaranya adalah:

Pertama
Membaca, memahami, dan mengamalkan Al Qur’an. Cara ini akan melahirkan cinta dan kerinduan kepadaNya, syukur dan sabar, tawadhu (rendah hati) dan khusyu, serta seluruh sifat yang bisa mengantarkan pada cinta dan ridhaNya. (Ibnu Rajab, Ikhtiyar Al Ula, hal 114)

Ini adalah sebuah kitab yang Kami (Allah) turunkan kepadamu, yang didalamnya penuh berkah, supaya mereka memperhatikan ayat-ayatNya dan supaya mendapatkan pelajaran orang-orang yang mau menggunakan akalnya”. (QS Shaad ayat 29)

Al Qur’an adalah kitab suci yang harus difahami, bukan sekedar dibaca. Fakta menunjukkan, banyak yang rajin membaca Al Qur’an tapi tidak faham isinya, sehingga tidak bersemangat untuk mengamalkannya. Untuk itu, biasakan juga membaca terjemahannya untuk membantu pemahaman. Pengalaman menunjukkan, awalnya memang agak susah mencerna maksud terjemahan Qur’an, namun kalau kita sering membacanya, lama kelamaan akan mudah memahaminya. Sebenarnya ini berlaku untuk semua ilmu, kalau kita tidak pernah membaca buku-buku psikologi misalnya, akan susah mencerna isinya, tapi kalau sudah sering, insya Allah kesulitan ini bisa diatasi. Saat membaca Al Qur’an, para sahabat mengutamakan pemahaman dan implementasi/pengamalan.

Ibnu Abbas ra berkata, “Kebiasaan kami, jika mempelajari sepuluh ayat Al Qur’an, kami tidak akan melampauinya sebelum kami memahami secara benar maknanya dan mengamalkannya”. (HR Athabari)

Sementara kita, lebih mengutamakan khatam ketimbang faham. Alangkah indahnya kalau kita sering khatam dan faham serta implementatif. Setelah faham, langsung diaplikasikan dalam kehidupan.

Anas ra mengatakan, “Abu Thalhah ra adalah orang yang banyak hartanya, di antara harta yang paling disenanginya adalah kebun kurma yang menghadap ke mesjid, bahkan Rasulullah SAW pun pernah singgah di kebun itu. Ketika turun firman Allah yang berbunyi:
“Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebajikan sebelum kamu menafkahkan sebagian dari harta yang kamu cintai” (QS Ali Imran ayat 92)
Abu Thalhah bergegas menemui Rasulullah SAW seraya berkata, “Ya Rasulullah, sungguh aku telah faham ayat itu, maka harta yang paling aku cintai adalah kebun kurma yang menghadap ke mesjid. Untuk itu saksikanlah, demi Allah aku sedekahkan kebun itu untuk mendapatkan pahala di sisiNya. Maka silakan Ya Rasulullah bagikan sebagaimana Allah telah mengajarkannya kepadamu.” (HR Bukhari Muslim)


Kedua
Mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan-amalan sunah setelah melaksanakan yang wajib. (Ibnul Qayyim, Madarijus Salikiin, jilid 3, hal 13)

Abu Hurairah ra berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada amalan yang paling Aku cintai dari hambaKu kecuali apa yang telah diwajibkan kepadanya. Dan Aku mencintai hambaKu yang senantiasa mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan-amalan sunah” (HR Bukhari)

Menurut riwayat ini, ada dua hal yang menyebabkan Allah mencintai kita.

Pertama, konsisten melaksanakan ibadah-ibadah fardu/wajib, seperti shalat lima waktu, shaum Ramadhan, zakat, haji kalau sudah mampu, dan lain-lain.

Kedua, melaksanakan amalan-amalan sunah, seperti shalat rawatib, tahajud, dhuha, shaum senin-kamis, dan lain-lain. Ibadah-ibadah ini akan menjadi pupuk bagi hati kita sehingga tetap hidup dan subur. Allah SWT akan merespon pendekatan diri kita dua kali lipat dari apa yang kita lakukan. Rasulullah saw. pernah bersabda melalui hadits qudsinya,

Allah swt. berfirman: “Jika ia (manusia) bertaqarrub kepadaKu satu jengkal, Aku akan mendekat kepadanya satu hasta. Jika ia bertaqarrub kepadaKu satu hasta, Aku mendekat kepadaNya satu depa. Dan apabila ia mendatangiKu dengan berjalan, Aku mendatanginya dengan berlari.” (HR Imam Ahmad, Imam Bukhari, Imam Muslim, At Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Jadi, kalau kita memberi satu cinta kepada Allah, Dia akan memberi dua cinta kepada kita. Kalau kita memberi tiga cinta, maka Allah akan memberi empat cinta, demikian seterusnya. Karena itu, dekatkanlah diri kepadaNya dengan ibadah-ibadah sunah setelah kita melaksanakan yang wajib, pasti Dia akan mencintai kita.

Ketiga
Memperbanyak dzikir, baik dengan lisan ataupun perbuatan. Allah SWT memerintahkan untuk memperbanyak dzikir dalam setiap kesempatan.

“Dan dzikirlah (ingatlah) Allah sebanyak-banyaknya, supaya kamu beruntung.” (QS Al Jumu’ah ayat 10)

Ada dua macam dzikir, muqayyad dan muthlaq.

Dzikir Muqayyad adalah dzikir yang jenis dan jumlahnya telah ditetapkan Rasulullah saw. seperti dzikir setelah shalat fardhu (wajib) membaca Subhanallah, Alhamdulillah, dan Allahu Akbar masing-masing 33 kali. Karena Rasulullah telah menetapkan jenis dan jumlahnya, kita tidak boleh menambahi atau menguranginya.

Dzikir muthlaq adalah dzikir yang jenis dan jumlahnya tidak ditetapkan oleh Rasulullah saw., namun disesuaikan pada situasi dan kondisi yang kita hadapi. Misalnya saat menghadapi ujian kita agak gelisah, nah kita bisa berdzikir apa saja sesuai kemauan, bisa baca astaghfirullah, subhanallah, alhamdulillah, dan lain-lain. Jumlahnya pun terserah kita, berapa saja boleh. Allah SWT akan mencintai hambaNya yang selalu menyertakan dzikir dalam seluruh aktifitas kesehariannya. Mendapat kebahagiaan mengucapkan alhamdulillah, tertimpa musibah mengucapkan innalillahi wa inna ilaihi raaji’un, melihat kemaksiatan mengucapkan astaghfirullah, memulai perbuatan baik mengucapkan bismillah, melihat sesuatu yang mengagumkan mengucapkan subhanallah. Ini indikator bahwa kita selalu mengingatNya, sehingga Allah SWT pun akan mengingat kita.

“Karena itu, ingatlah kepadaKu, niscaya Aku akan mengingat pula kepadamu. Dan bersyukurlah kepadaKu, serta janganlah kamu mengingkari nikmatKu (QS Al Baqarah ayat 152)

Allah SWT akan menyertai orang-orang yang selalu berdzikir kepadaNya, sebagaimana dijelaskan dalam hadits qudsi:

“Aku adalah menurut persangkaan hambaKu kepadaKu. Dan Aku bersamanya ketika ia menyebutKu. Jika ia menyebutKu dalam dirinya, maka Aku menyebutnya dalam diriKu. Ketika ia menyebutKu ditengah-tengah sekelompok orang, maka Aku menyebutnya ditengah-tengah kelompok yang lebih baik dari mereka (kelompok malaikat).” (HR Imam Ahmad, Imam Bukhari, Imam Muslim, At Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Dalam riwayat lain disebutkan,
Sesungguhnya Allah swt. berfirman: Aku bersama hambaKu selama ia mengingatKu, dan selama kedua bibirnya masih bergerak menyebut namaKu.”(HR Ahmad, Bukhari, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan Al Hakim)

Dzikir jangan diartikan sempit (sekedar dengan lisan), tapi juga harus tercermin dalam perbuatan. Kalau melakuan segala sesuatu dengan berpegang teguh pada nilai-nilai kebenaran dan kejujuran, ini juga disebut dzikir. Allah SWT menyebutkan ciri-ciri orang yang dicintaiNya.

“Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dalam keadaan berbaring…” (QS. Ali Imran ayat 191)

Apabila ketiga hal di atas dilaksanakan, yakni memahami Qur’an, meningkatkan amaliah wajib dan sunah, serta selalu dzikir dengan ucapan dan perbuatan, insya Allah kita akan menjadi kekasihNya, dan kita akan rindu bertemu denganNya.

“Barangsiapa yang mendambakan bertemu dengan Allah, Allah pun mendambakan bertemu dengannya. Dan barangsiapa yang benci bertemu dengan Allah, Allah pun akan merasa benci bertemu dengannya.” (HR Ahmad, Muslim, Tirmidzi, Ad Darimi, dan Nasa’i)

Realisasikan cinta dan rindu kita kepadaNya dengan cara mengerjakan apa yang Allah cintai, meskipun diri kita sangat membenci dan menolak perbuatan tersebut, serta tinggalkan apa yang Allah benci, meski sebenarnya kita sangat mencintai dan menginginkannya. Semoga kita diberi kekuatan untuk bisa meraih cintaNya.