Bismillahirrahmanirrahim..

Dunia malam bagai pisau bermata dua. Dunia yang satu ini memiliki kekuatan dan beribu misteri. Pertarungan kebaikan dan kesesatan, haq dan bathil sepanjang siang hari sangatlah dahsyat. Pertarungan yang membutuhkan energi yang tidak sedikit. Masing-masing pembela kebenaran dan kesesatan menumpahkan segala daya kemampuan yang dimilikinya.

Ternyata malam lah yang menjadi pusat penghasil energi dan pengumpulnya. Kedua kekuatan yang bertolak belakang hingga hari akhir itu, masing-masing menggunakan jeda malam untuk mengumpulkan tenaga. Untuk bertarung meraih pendukung di esok hari.

Tentu kita ingin meniru dunia malam orang-orang shalih. Karena kita ingin shalih dan baik seperti mereka. Kita ingin merenda malam kita yang banyak terkoyak oleh aktifitas yang tidak berguna atau bahkan membahayakan. Padahal malam adalah ghonimah cuma-cuma yang disediakan untuk kita. Kita ingin merasakan hakikat kenikmatan dunia ini sebagaimana mereka telah merasakan kenikmatan itu.

Tetapi tidak mudah. Sudah sekian lama malam kita datang dan kemudian berlalu. Datang menawarkan intan dan mutiara, tidak lama kemudian pergi dengan kecewa karena kita tidak peduli. Inilah bagian dari resep mereka yang telah berhasil menghiasi malam-malam yang indah itu. Agar ringan mata ini terjaga, kaki ini berdiri sholat, dan kepala ini sujud dihadapan keagunganNya.

1. Dawud Ath Tho’i, “Aku ingin sekali dianugerahi kebaikan di waktu malam,”

Tekad. Itulah makna di balik kata Dawu Ath Tho’i ini. Selanjutnya ia berkata, “Tidak ada yang lebih aku iri dari seseorang, kecuali ketika dia bisa sholat malam.” Kebaikan apa pun tidak akan sampai kepada kita tanpa tekad yang kuat. Manakah mutiara di dasar lautan dapat diraih tanpa ada tekad baja untuk menyelami dalamnya lautan. Karena kebaikan ini terjal. Karena kebaikan ini sulit. Kawasan terjal dan sulit tidak akan dilalui oleh mereka yang hidup tanpa tekad untuk melaluinya.

Nyala tekad di hati kita harus terus dipompa. Agar sinarnya benar-benar bisa membukakan mata kita yang sedang asyik terpejam. Menguatkan kaki kita untuk melangkah menuju tempat berdua dengan pencipta kita. Apalagi, ini malam hari. Tanpa tekad, malam yang dingin ini lebih nikmat jika kita habiskan di bawah selimut tebal. Lebih segar jika mata kita manjakan sampai esok fajar pagi menyapa.

Membangun tekad seperti membangun sebuah pondasi bangunan. Bangunan tekad ini haruslah tertancap kuat di dasar hati kita. Karena dia akan bisa usang karena waktu. Dan bisa goyah karena terpaan tornado musibah.

Tekad ini bisa kita tumbuhkan dengan kembali mengingat mahalnya detik-detik yang disediakan Allah. Betapa banyak janjiNya untuk yang berhasil menghidupkan malamnya dengan ibadah. Mulai janji ampunan, do’a yang cepat terkabul, ruang ketenangan jiwa kita yang lelah oleh dunia, hingga surga yang siap menanti dengan segala kenikmatannya. Setiap detiknya sangat berharga. Detik-detik yang berbeda sama sekali dengan detik di siang hari.

Menumbuhkan tekad bisa juga dengan cara mencermati deretan nama besar dalam sejarah Islam. Karena ternyata kebesaran mereka tidak mungkin dilepaskan dari aktifitas malam. Qiyam, tilawah, menangisi dosa, mengingat akhirat, dan do’a-do’a panjang. Itulah yang membuat mereka kemudian besar, selamanya terukir dalam sejarah gemilang.

Nuruddin Mahmud Zanki adalah nama besar yang dikenang dalam perang salib. Dia berhasil meruntuhkan kesombongan pasukan salib. Kemenangan demi kemenangan dia raih, Hingga perbincangan antar pasukan salib terjadi. Mereka berkata, “Kemenangan Nuruddin Zanki bukan karena jumlah pasukannya yang lebih banyak. Tapi mempunyai rahasia bersama Tuhan. Dia menang karena do’a dan sholat malamnya. Dia sholat malam dan mengangkat tangannya untuk berdo’a dan Tuhannya mengabulkan permohonannya.”

Inilah yang diistilahkan oleh Ibnu Katsir tentang dirinya, “Dia itu kecanduan sholat malam, puasa banyak, berjihad dengan akidah yang benar.”

Pantaslah kalau masjid Aqsho bisa diraih kembali. Itulah pemimpinnya, dan inilah panglimanya, Sholahuddin Al Ayyubi. “Dia selalu menjaga sholatnya dalam jamaah. Selalu menjaga sholat sunah dan jika malam tiba dia sholat malam. Dia juga sangat senang mendengarkan Al Qur’an, lembut hatinya deras air matanya. Jika mendengar Al Qur’an hatinya khusyuk dan matanya menangis sepanjang hari-harinya,” jelas Qodhi Bahauddin yang hidup sejaman dengan Sholahuddin.

Satu lagi kisah penaklukan Konstantinopel di tangan pemberani Sultan Muhammad Al Fatih. Sehari sebelum penaklukan, dia menganjurkan pasukannya untuk berpuasa. Dan pada malam harinya, dia sholat malam dan berdo’a bersama tentaranya.

Semoga dengan membaca kisah-kisah mereka, ada gerak tekad yang terus mendesak maju. Karena kebesaran mereka tergantung seberapa hidup malam mereka.

2. Rasulullah, ” Sedikitkan makan, karena orang yang paling kenyang di dunia akan menjadi orang paling lapar di akhirat.”

Tidak banyak makan. Itulah salah satu resep sederhana yang dianjurkan oleh Rasulullah. Paling kenyang di dunia paling lapar di akhirat? Ya, mungkin inilah yang ingin dijelaskan oleh Imam Ghozali dalam pernyataannya, “Janganlah banyak makan karena kalian akan banyak minum dan menyebabkan banyak tidur, akhirnya, kalian banyak menyesal.”

Menyesal telah melewatkan saat-saat penting untuk meraih kesuksesan. Menyesal karena telah kehilangan banyak pahala. Menyesal karena di akhirat sangat membutuhkan amal yang banyak untuk menjalani kehidupan yang tiada titiknya. Sementara ladang kebaikan di malam hari telah banyak kita lewatkan.

Banyak makan akan membebani perut. Tentunya ini akan menjadi beban yang cukup berat buat mata dan fisik kita. Makan adalah aktifitas yang banyak menuntut tidur setelah itu. Banyak makan juga membuat konsentrasi otak tertuju hanya kepada perut. Jadilah kita seperti yang dikatakan oleh Bakar bin Khunais, “Orang yang sedikit makan menjadi lebih paham terhadap nasehat dan hatinya lebih cepat menuju kelembutan. Sementara banyak makan akan banyak menghilangkan kebaikan.”

Sedikit makan adalah kebiasaan baik yang sudah menjadi tradisi orang-orang sholeh sejak dulu. Sejak jaman Bani Israil bahkan. Seperti yang diceritakan oleh Aun bin Abdillah, “Dulu pemimpin Bani Israil berkata saat mereka sedang berbuka puasa, ‘Jangan makan banyak, karena jika kalian makan banyak kalian akan tidur banyak. Jika kalian banyak tidur akan sedikit sholat.’”

Walaupun dalam sejarah disebutkan bahwa ada sebagian orang besar yang makan banyak tetapi tetap sholat malam. Sufyan Tsauri lah orangnya. Tentang penggabungan dua hal yang bertolak belakang itu Syaikh Abdul Qodir Jailani berkata, “Jangan meniru Sufyan dalam masalah banyak makan. Tetapi tirulah dalam banyaknya ibadah. Karena kamu bukan Sufyan. Janganlah kamu terlalu kenyang seperti Sufyan, karena kamu tidak mampu menguasai dirimu seperti halnya Sufyan menguasai dirinya.”

Dan Sufyan sendirilah yang berkata, “Sedikitkanlah makanmu, akan kalian dapat qiyamullail.” Kalau kita bisa seperti Sufyan, tentu tidak ada larangan. Tetapi jika tidak, jadilah seperti yang dikatakan oleh Syaikh Abdul Qodir Jailani.

3. Ayah Muawiyah bin Qorroh, “Wahai anakku, tidurlah semoga Allah memberimu kebaikan di malam hari.”

Tidur yang benar. Sesuai dengan sunnah Rasulullah. Ajaran Rasullah tentang tata cara tidur bukan saja mendatangkan pahala sebagai amalan sunah, tetapi juga mendatangkan kebaikan berupa mudahnya bangun malam.

Apa yang dikatakan Muawiyah bin Qorroh menceritakan kebiasaan ayahnya yang selalu berkata kepada anak-anaknya bahwa selepas sholat Isya merupakan salah satu tuntunan tidur ala Nabi. Di mana sang ayah melarang anaknya untuk asyik bercengkerama dan menghabiskan malam, hanya dengan berbincang hal yang tidak penting dan tidak bermanfaat.

Setiap kita membutuhkan tidur dalam rentang waktu tertentu. Ketika kurang, tentu rasa kantuk tidak akan beranjak dari mata kita. Apalagi kalau tekad untuk bangun malam hanya setengah-setengah atau tidak ada sama sekali.

Bisa jadi ayah Muawiyah bin Qorroh meniru apa yang diajarkan Aisyah kepada keponakannya, Urwah. Suatu malam dia menginap di ruangan yang tidak jauh dari rumah Aisyah. Malam itu ia asyik berbincang dengan teman-temannya. Aisyah pun menegurnya, “Wahai Urwah, perbincangan apa ini? Aku tidak melihat Nabi tidur sebelum Isya dan ngobrol setelahnya. Kalau beliau tidak tidur sehingga bisa beristirahat, maka beliau sholat untuk mendapatkan banyak keberuntungan.”

Dalam kesempatan yang lain Aisyah menegurnya dengan redaksi yang lebih mengena, “Hai keponakanku, istirahatkan pencatat amal-mu. Tidak ada obrolan malam kecuali untuk musafir, orang yang tahajud dan pengantin.”

Ya, biarlah malaikat pencatat amal kita istirahat. Bukan karena mereka lelah mencatat. Tetapi kita yang akan kelelahan untuk menanggung catatan itu. Bicara tidak ada maknanya hanya membuang waktu dan berpeluangnya lidah terpeleset, sehingga catatan dosa kita bertambah lagi.

Nabi adalah orang yang hampir tidak pernah lewat malamnya begitu saja. Beliau tentu tahu bagaimana caranya agar selalu mudah bangun malam hari untuk beribadah. Ajaran Nabi seperti tidur miring ke kanan, berwudhu dan berdo’a sebelum tidur bukan saja memiliki kelebihan secara medis, tetapi juga memudahkan kita untuk bangun malam. Untuk menabung pahala dan hidup di dunia ini lebih bahagia dan bermakna.

4. Abu Utsman, “Abu Hurairah bergiliran dengan istri dan pembantu untuk saling membangunkan.”

Mencari lingkungan yang mendukung. Lingkungan bisa sangat menentukan. Bisa jadi kita yang dulu berada di lingkungan yang lebih agamis, sering melakukan sholat malam, puasa sunah, tilawah dan ibadah lainnya yang kala itu terasa begitu nikmat. Dan kini semuanya telah pudar atau hilang sama sekali, setelah kita berpindah tempat, Tinggal di tempat yang tidak lagi seindah dulu.

Inilah cerita lengkap Abu Utsman tentang keluarga Abu Hurairah, “Aku bertamu di rumah Abu Hurairah selama tujuh hari. Dan aku lihat dia, istri dan pembantunya membagi malam menjadi tiga. Setelah yang satu selesai sholat membangunkan yang kedua dan seterusnya.”

Itu juga yang dilakukan oleh istri penguasa ketika itu, Nuruddin Zanki. Selain dia, istrinya Khotun binti Atabik juga seseorang yang rajin sholat malam. Pasangan sholeh yang layak membawa negeri menjadi adil dan damai.

Pagi itu Khotun tampak murung. Nuruddin menanyakan sebabnya. Ternyata masalahnya adalah karena dia tidak bangun semalarn dan kehilangan pernik-pernik indahnya malam bersama Tuhannya. Setelah itu, Nuruddin mengangkat seorang pegawai istana khusus untuk memukul genderang buat membangunkan sholat malam. Nuruddin memberi pegawai tersebut gaji yang tinggi.

Hari ini, jaman sudah semakin canggih. Segala sarana yang kita gunakan untuk bangun malam sangatlah banyak dan tersedia mudah. Kita tidak perlu lagi membayar orang khusus dengan gaji tinggi untuk membangunkan kita di malam hari, seperti yang dilakukan sang sultan. Kita hanya butuh tekad kuat dan memanfaatkan peralatan canggih untuk membangunkan kita. Sekali lagi, kita hanya butuh tekad.

Namun bisa jadi kita masih merasa keberatan untuk bangun, walau jam telah berdering sekian kali. Maka, mencari lingkungan yang sholeh adalah penting. Lingkungan itu bisa teman, istri, suami atau keluarga lainnya, yang gemar melakukan sholat malam. Dengan hidup bersama mereka, berada di lingkungan yang baik dan mendukung, kita akan terkena imbas membiasakan diri sholat malam. Kita akan menyadari nikmatnya hari-hari sunyi di malam hari jika diisi taqarrub pada Allah.

5. Hasan Al Basri, “Kamu diikat oleh dosamu.”

Mata kita dikatupkan oleh dosa-dosa kita, begitu kira-kira pesan yang ingin diajarkan oleh Imam Hasan kepada kita. Nasehat beliau ini untuk seseorang yang datang padanya dan mengeluhkan tentang dirinya yang sulit bangun malam. “Wahai Hasan Basri, aku mencintai sholat malam dan aku selalu tidur dalam keadaan suci, tetapi mengapa aku tidak bisa juga bangun?” Singkat Imam Hasan menjawab, “Kamu diikat oleh dosamu.”

Dosa di siang hari, membuat kita susah untuk membuka mata, inilah pengalaman pribadi Sufyan Tsauri, “Aku pernah tidak bisa sholat malam selama lima bulan karena satu dosa yang aku lakukan.” Temannya bertanya, “Dosa apa itu?” “Aku melihat seseorang menangis dan dalam hati aku berkata, ‘Orang itu menangis hanya untuk dipuji saja,’” jelas Sufyan.

Subhanallah, mereka yang sedikit dosanya, tahu dari mana datangnya musibah itu. Tetapi kita yang masih bergumul dengan dosa tidak tahu mengapa sholat malam terasa begitu berat.

Allah ridho kepada orang sang tidak bermaksiat padaNya di siang hari. Sehingga dia diberikan kesempatan untuk menyambut kehadiranNya di langit dunia di malam hari. Saat yang setiap detiknya tidak mungkin dihargai sekedar dengan dunia dan seisinya. Sangat berharga.

Inilah yang ingin dikatakan oleh Ibrahim bin Adham kepada seseorang yang meminta resep agar bisa sholat malam, “Jangan, bermaksiat kepadaNya di siang hari, niscava Dia akan membangunkanmu di malam hari. Karena kehadiranmu di hadapanNya adalah merupakan kemuliaan. Dan orang yang bermaksiat tidak layak mendapatkan kemuliaan itu.”

Itulah bagian dari resep orang-orang besar dalam sejarah manusia dan di sisi Allah. Kekuatan mereka di siang hari untuk mengukir prestasi benar-benar tergantung seberapa hidup malam-malam mereka dengan ibadah.