Muslim shalih bukan hanya ada di Ramadhan, masa Qiyamul Lail (Tarawih-red) bukan hanya di Ramadhan, demonstrasi ketertundukan bukan hanya di Ramadhan. Karena sesunggguhnya setiap hari, setiap jam, setiap menit dan detik, adalah masa-masa ibadah, taat, syukur, dan tunduk kepada syariat Allah SWT.

Namun Ramadhan memang menyimpan banyak bonus dan keagungan yang tak terhingga untuk manusia. Suasana kehidupan Ramadhan diikat dengan ibadah yang tiada putus, siang atau malam. Siang melakukan puasa, suatu ibadah yang terus melekat pada manusia kemanapun dia pergi. Ketika detik-detik muslim dipenuhi dengan segala aktivitas ibadah itulah, syetan tidak mempunyai ruang gerak yang leluasa. Karena segala ruang dalam hidup dan jiwa kita telah kita isi dengan kepatuhan kepada Allah. Dan lalu karenanya pintu-pintu surga dibuka lebar-lebar sedangkan pintu neraka ditutup. Rasulullah SAW bersabda, ”Jika Ramadhan tiba dibukalah pintu-pintu surga dan ditutuplah pintu-pintu neraka, dan setan-setan dibelenggu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Nah, dalam suasana yang dikepung untuk selalu dengan berdekatan kepada Allah itulah, Dia menawarkan bonus istimewa. Bonusnya berupa pelipatgandaan nilai dan pahala ibadah. Bukan hanya puluhan kali atau bahkan ratusan kali lipat. Allah SWT menyediakan satu malam yang nilainya lebih baik dari 1000 bulan. Itulah malam kemuliaan yang disebut dengan Lailatul Qadar. Allah berfirman:

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) saat Lailatul Qadar (malam kemuliaan). Dan tahukah kamu apakah Lailatul Qadar itu? Lailatul qadar itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala uuusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. “(Al-Qadr: 1-5)

Allah menyebut malam itu sebagai Lailatul Qadar karena kedudukannya yang agung dan mulia di sisi Allah. Pada malam itu ada pengampunan dosa-dosa dan penutupan aib oleh Allah SWT. Dalam hadits shahih Rasulullah SAW menyebutkan keutamaan melakukan qiyamul lail di malam tersebut. Beliau bersabda : “Barangsiapa melakukan shalat malam pada saat Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. ” (Hadits Muttafaq ‘Alaih).

Sirah Rasulullah menjelaskan justru menjelang akhir Ramadhan intensitas ibadah Rasul dan para sahabat semakin tinggi. Masjid semakin penuh disesaki jama’ah. Mereka kian khusyu’ dalam sebuah aktivitas yang disebut I’tikaf. I’tikaf adalah berdiam diri di masjid dalam rangka taqarrub (mendekatkan diri kepada Allah SWT). Meninggalkan seluruh aktivitas duniawi dan mengkhususkan waktu hanya untuk beribadah. Sepuluh hari penuh mereka larut dalam beragam amaliyah ruhiyah, seperti tilawah Qur’an, Qiyamul Lail, dzikir dan lain-lain.

Kalo kita bandingkan dengan fenomena umum di zaman ini justru berbeda 180 derajat. Menjelang Ramadhan berakhir, jama’ah justru bergegas ”meninggalkan” masjid dan musholla. Bulan Ramadhan yang seharusnya menjadi bulan kembali ke masjid, bulan peningkatan ibadah, bulan peningkatan interaksi dengan Al-Qur’an, bulan melatih hidup hemat, bulan penggemblengan diri untuk meraih sifat-sifat ketaqwaan, ternyata kalah bersaing dengan promosi diskon pasar dan swalayan. Bahkan, hari-hari penting di penghujung Ramadhan disita tradisi tahunan yang seolah-olah wajib dilakukan. Berbarengan dengan berkurangnya jamaah shalat tarawih, pasar dan swalayan dipadati pengunjung. Terminal bus dan Stasiun KA disesaki oleh orang-orang yang bersiap pulang kampung. Ada juga yang sibuk membuat makanan lebaran. Lailatul Qadar terlupakan oleh hiruk pikuk persiapan lebaran.

Namun, jumlah mereka yang merindukan Lailatul Qadar dan bersungguh-sungguh mempersiapkan diri meraihnya sangat sedikit dibandingkan dengan yang melalaikan. Terus, bagaimana dengan kita?? Menjadi kelompok pertama, yang melalaikan kebenaran Ramadhan, atau ikut kelompok kedua yang berusaha mengisinya dengan amal???

PS: By the way, sekarang sudah memasuki 10 hari terakhir bulan Ramadhan… Sudah siapkah anda untuk menjala malam seribu bulan itu…