Puisi karya Rabi’ah al-Adawiyah ini begitu indah sekali.. Subhanallah.. Sebenarnya udah pernah kubaca pas aku masih duduk di semester 2 (tahun 2005) di buku “Diary Pengantin” (buku yang tak sengaja terbeli karena mau dihadiahkan ke teman), tapi saat itu belum ngeh juga…:/ ? Ah, apa bisa sih? Bisakah mencintai orang yang belum kita ketahui siapa dia.. (misalnya dijodohin ato melalui proses ta’aruf), kemudian orang tersebut menjadi suami kita? Butuh waktu berapa lama untuk mencintainya? Weeew… Itu pikirku dulu.. Apalagi saat itu aku masih belum tertarbiyah dengan baik. Lambat laun aku pun mulai mengerti.. setelah belajar banyak hal tentunya.. bahwa cinta pada manusia itu sebenarnya tidak abadi.. kita bisa kok melupakan masa lalu kita (walaupun mungkin kita pernah setengah mati mencintai ”dia yang dimasa lalu” haha.. aduuuh.. Forget it!) dan Insya Allah bisa jatuh cinta lagi sama orang lain.. So kenapa takut untuk menerima orang yang menjadi suami/ istri kita.. Padahal cinta yang indah, pacaran yang indah serta membuat seluruh alam bertasbih n mendoain kita yah.. itu tadi cinta yang terjalin setelah pernikahan.. setelah diikat secara halal oleh Allah SWT…

By The Way.. mungkin semua orang pasti ingin bisa menikah dengan orang yang dicintainya.. Alhamdulillah bila itu terjadi, berarti dia rejeki kita tapi bila bukan.. tak perlu berlarut-larut dalam kesedihan dong ah… Belum tentu apa yang menurut kita itu baik tetapi ternyata tidak menurut Allah.. Namun bisa juga kita membenci sesuatu padahal dalam pandangan Allah itu terbaik buat kita. Oleh sebab itu agar tidak zina hati, yuk ah.. jaga hati kita..

Let’s to pray and wish Allah gives the best for us..

Ya Allah.. aku rindu akan Mujahidku yang aku sendiri belum mengetahui siapa dan ada dimana dia… Jagalah dia untukku… dan begitu pula aku… Jagalah aku untuknya… ^_^ Dan pabila kau telah mempertemukan kami.. kekalkanlah ikatan yang telah kau jalinkan pada kami berdua.. untuk saling bergandengan tangan dan bersama-sama membuka pintu SurgaMu.. Sama-sama membangun Baiti Jannati

Wallahu’alam bisshawab…

Menanti Sang Revolusioner

Oleh: Rabia’ah Al-Adawiyah

November 2002

Mujahidku, apa kabar?

Semoga saat ini engkau baik-baik saja

Penatku, penatmu saat ini semoga tetap di jalan-Nya

Semoga mendung ini kau nikmati juga

Supaya kau merasa sejuk setelah seharian bercampur debu

Mujahidku…

Aku rindu dalam rindu-rindu tentang takdir kita

Semoga saat ini Penghulu kita menjagamu,

Melindungimu di jalanan yang terik atau di lautan yang berdebur…

atau… bahkan di musim yang berbeda?

Aku tak pernah tahu

Namun, tahukah kau? Aku selalu yakin akan skenario-Nya

Mujahidku…

Semoga saat ini Dia menjaga hatimu, mata, pendengaran

Jiwamu, semuamu…. (ehmmm!) untukku!

Pun aku, semoga Dia membantuku untuk menjaga kehormatanku, jiwaku… jasadku, semuaku… untukmu! Karena-Nya semata.

Mujahidku… tahukah kau?

Saat ini aku berdoa untuk keselamatanmu

Semoga saat ini engkau masih teguh dijalan yang Ia bentangkan untukmu

Mujahidku…

Saat penat-penat pikir dan jasad begitu menggila

Saat kumparan-kumparan dakwah ini mengajak kita berputar bersamanya…

Sungguh, aku hanya berharap DIA ridha atas apa yang aku dan engkau lakukan (meskipun kau entah dimana)

Mujahidku, entah kau di mana…

Aku tak hendak melukis jasadmu,

Aku tak hendak mereka-reka, menebak-nebak tentangmu!

Sebab mujahidku… tahukah kau?

Aku mencintaimu sebelum mata ini memandang, sebelum telinga ini mendengar

Sebelum hal-hal fisik merusak semua ketulusanku atas siapapun kau!

Dan aku… ingin menjaganya tetap begitu: SEDERHANA

Ah, Mujahidku… semoga kaulantunkan doa yang sama pada Pemilik kita

Sebab takdirku dan takdirmu ada di genggaman-Nya

Dan kita? Tak pernah tahu

Mujahidku…

Dalam sujud-sujud panjangku, aku merayu-Nya,

Menyelipkan doa semoga aku pantas mendampingimu

Entah… siapa kau, dimana saat ini adamu… namun…

Ada hormat, ada rindu, kepercayaan,

Yang memberiku selaksa energi tulus

Mujahidku, sungguh aku hanya ingin menjaga diriku, jiwaku

Mempersiapkannya… menempanya

Agar jika suatu saat DIA berkehendak, dan membuat skenario tentang kita,

Aku telah siap mendampingimu

Dan kita akan tapaki jalan dakwah yang kita pilih dan kita cintai

Hingga hanya Allah muara akhir semua cita

14 Ramadhan 1423

Untuk seseorang yang dijanjikan Allah, disaat yang hanya Allah mengetahuinya.

Sekilas tentang Rabiah al-Adawiyah:

Lahir sebagai sulung dari tiga bersaudara di Solo, 15 Mei 1981 dari pasangan M. Farzan Ali dan Aisyah. Ia menyelesaikan pendidikan formal dari SD hingga perguruan tinggi di Solo, dan baru saja menyelesaikan studinya di Fakultas Hukum Universitas Negeri Sebelas Maret tepat di penghujung tahun 2004.

Sejak duduk di bangku SMP sudah tertarik dengan aktivitas organisasi. Minatnya pada jurnalistik diawali di SMU dengan mengelola majalah sekolah GEMA SMU-MTA Surakarta. Sedangkan aktivitas organisasi eksternal mulai serius digelutinya sejak bergabung di Pelajar Islam Indonesia (PII) Daerah Solo pada tahun 1999. Ia sempat menjadi Ketua Umum PII_Wati Solo periode 1999-2000. Kini, ia masih tercatat sebagai anggota Korps Instruktur PII, untuk training-training bagi remaja.

Hobi membaca, menulis dan ”jalan-jalan” mulai terasah saat bergabung dengan media mahasiswa NOVUM Fakultas Hukum tahun 1999-2001. Ia pun sempat memegang amanah sebagai Kabid Jurnalistik Forum Silaturahmi Mahasiswa Islam (FOSMI) SKI FH UNS pada tahun 2000.

Thun 2001, Robi’ah mulai bergabung dengan Forum Lingkar Pena (FLP) Solo. Sejak itulah pilihan untuk menjadi penulis terus diasahnya dengan menulis dan mengirimkan artikel-artikel nonfiksi ke media lokal, majalah-majalah Islam dan website. Hingga saat ini, ia menjadi salah satu trainer di ”sekolah menulis” FLP dengan spesialisasi karya nonfiksi. Diary pengantin adalah karya kolaborasinya dengan Izzatul Jannah, menyusul karya pertamanya Kenapa Harus Pacaran (DAR! Mizan, Maret 2004), Tak Hanya Sekedar Ngampus (MVM).

Cita-cita menikah di usia muda dan masih berstatus mahasiswa alhamdulillah dapat terwujud. Ia menikah pada 8 Februari 2004 lalu dalam usia menjelang 23 tahun dengan Hatta Syamsuddin, seorang mahasiswa Faculty of Shari’ah International University of Africa, Khortoum Sudan. Bagi keduanya, menikah muda bukan sekadar menghalalkan hubungan, tetapi keberanian untuk mengambil tanggung jawab lebih cepat, kesiapan untuk berjuang dari nol lebih cepat, sehingga lebih cepat pula menginvestasikan segala potensi untuk kemajuan dakwah. Termasuk, menginvestasikan generasi-generasi dakwah yang dilahirkan serta diasuh dalam pernikahan dengan visi yang mantap: Bukan sekedar bahagia, namun bersama menuju surga. Amin.

Sumber: Buku Diary Pengantin, 2005

(Izzatul Jannah dan Rabiah al-Adawiyah)

PS: Resensi tentang buku ini ntar menyusul yah.. masih proses membaca ulang nih..