Seorang gadis itu seperti bunga mawar dan ayah seperti pemilik kebun mawarnya. Seseorang yang menanam bunga mawar, merawatnya, pasti tidak mungkin begitu saja memberikan bunga itu pada orang yang baru saja melihatnya, kemudian ingin memetiknya… Pemilik mawar itu pasti ingin memastikan apakah bunga mawar itu akan dirawat lebih baik atau minimal sama dengan sebelum diberikannya dengan si pemetik tadi.

Bunga mawar di kebunnya...

Bunga mawar di kebunnya...

Kenapa bunga mawar? Karena ayah ingin aku teguh, seperti mawar yang warnanya merah tegas. Ayah juga ingin aku selalu dapat menjaga diri sendiri, seperti mawar yang duri-durinya ada untuk melindunginya dari rampasan tangan yang kasar.

Ah, Ayah… Aku paham bahwa bunga mawarmu ini harus tetap harum dan tak boleh ternoda oleh apapun! Kau ingin bunga mawarmu ini tetap indah dan terawat saat ia tak lagi ada di kebunmu, bukan? Jika pun aku ‘hanya’ menempati sebuah vas yang tak seluas kebunmu nantinya, kau hanya ingin sang pemilik vas itu memetikku dengan hormat dari pagar rumahmu, bukan? Aku paham Ayah.. Sebab di kebun orang tualah seorang gadis dapat bermanja dan merasakan cinta. Dan kau mungkin cemas jika aku tak mendapatkan cinta dan perlindungan, bukan? Ah, Ayah… kau seorang lelaki, dan siapapun yang akan menjadi suamiku nanti pun lelaki. Aku mengerti, Ayah… kau mungkin merasa cemas bahwa dalam pandanganmu, sepertinya… belum ada lelaki yang dapat mencintaiku seperti engkau! Iya kan, Ayah? Dan kau membuatku merasa beruntung menjadi bunga mawarmu, Ayah! Kau hanya perlu waktu untuk mengijinkan seseorang yang tepat untuk dapat memetikku dengan cara yang terhormat (Rabiah al-Adawiyah, 2005 dalam buku Diary Pengantin).

PS: ^_^ I ever heard it from my father walaupun saat itu ayahku tidak mengatakan bahwa aku ini bunga mawar dan beliau adalah pemiliknya… namun aku bisa mengerti maksud dari ucapan ayahku itu adalah kurang lebih seperti filosofi ini. (Beberapa bulan lalu…)