September 2008


Iklan

Assalamu’alaikum wr. Wb.

Ukhti sayang, bagaimana kabar keimanan hari ini?

Semoga Allah selalu menguatkannya dari waktu ke waktu, terutama pada sepuluh malam terakhir di bulan ramadhan ini.

Ya, tak terasa bulan mulia ini akan segera berakhir. Parade kebarokahan dan kebaikan yang berlipat-lipat ganda menjelang usai. Sebuah bulan yang kepergiannya selalu diiringi tangis para pencintanya. Sebuah bulan yang keberlaluannya selalu menghadirkan kerinduaan hingga para pencintanya selalu berharap setiap bulan adalan ramadhan. Hari-hari dimana siang-siangnya adalah siang-siang yang utama, malam-malamnya adalah malam-malam yang utama. Setiap detiknya adalah desiran udara syurgawi yang harganya tak terperi…

Saudariku sayang,

Di akhir bulan kemuliaan ini, jangan sampai tertipu hiruk pikuk menjelang ‘idul fitri (baju baru, sepatu baru, kue-kue nikmat, kesempatan untuk dapat melampiaskan nafsu lagi??) Sebuah hari kemenangan… bagi siapa? Benarkah kita adalah pemenang pada bulan suci ini? Benarkah kita adalah orang-orang yang sangat layak merayakannya? Benarkah kitalah orang-orang bertaqwa itu? Kitakah yang dosa-dosanya terampuni dan terbebas dari api neraka? Kebaikan dan perbaikan apa yang telah kita peroleh sejauh ini? Ataukah kita hanya penggembira yang sejatinya tidak mendapatkan apapun selama bulan yang penuh barokah ini? (lebih…)

Ternyata kita masih di sini. Di dunia ini. Hidup dan belum mati. Mungkin ada duka di antara kita. Yang sakit, yang dicoba, atau yang diuji dengan bencana. Tapi sesungguhnya, keseluruhan hidup kita adalah karunia. Di tubuh kita ada banyak tanda cinta-Nya. Mata, telinga, mulut, tangan, dan banyak lagi lainnya. Di sekeliling kita banyak perlambang kasih sayang-Nya. Ada udara yang kita hirup cuma-cuma. Meski tak semuanya segar. Ada matahari yang bersinar terang. Ada hujan yang setia membasahi tanah-tanah kering dan bebatuan.

Alangkah luas kasih sayang Allah. Allah SWT mengingatkan kita, “Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesugguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS.An-Nahl ayat18).

Saudaraku,
Tetapi, lebih dari itu. Ada cinta dan kasih sayang yang sangat diperlukan manusia. Yaitu ampunan Allah atas hamba-hamba-Nya. Perhatikanlah dalam-dalam, bagaimana Rasulullah menggambarkan besarnya cinta dan kasih sayang Allah kepada hamba-Nya yang bahkan telah melakukan kesalahan. Asalkan mereka mau bertaubat.

“Sungguh Allah lebih berbahagia dengan taubat hamba-Nya ketimbang seorang yang kehilangan hewan kendaraannya di daerah tak bertuan. Hewan beserta makanan, minuman dan segala perbekalannya hilang. Orang itu putus asa untuk menemukan hewan kendaraannya. Ia datang ke sebuah pohon dan tertidur di bawah naungannya. Tapi tiba-tiba ketika bangun, hewan yang hilang itu berdiri di sisinya. Ia pun memegang tali kekangnya. Saking gembiranya ia salah ucap dan mengatakan, “Ya Allah engkau hambaku sedang aku Tuhanmu…” (HR Muslim).

Apa yang terlintas dalam benak kita, jika orang yang sangat kita cintai dan kita kasihi ditawan musuh? Kita tidak bisa melihat dan mendekatinya, padahal kita tahu kekejaman dan keburukan musuh itu. Mungkin ia akan menyiksa orang yang sangat kita cintai itu. Tapi ternyata kemudian, orang yang kita kasihi itu dapat melepaskan diri dari cengkraman musuh, lalu ia datang kepada kita tanpa diduga. Kita pasti sangat gembira dan bahagia.

Kita tentu tidak sedang menyamakan bahagia manusiawi kita dengan bahagia Allah. Karena itu tidak dibolehkan. Tetapi yang pasti, orang yang bertaubat kepada Allah dari lumpur dosa dan kedzaliman, sama dengan orang yang berlepas diri dari tawanan syetan dan hawa nafsu. Ia terbebas lalu kembali ke jalan yang semestinya.

(lebih…)

Sesungguhnya, bermanfaat bagi orang lain adalah sebuah keindahan yang tidak bisa digambarkan dengan barisan kata-kata. Bermanfaat untuk orang lain adalah sebuah investasi yang memang sengaja ditanam, sebab sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling bermanfaat bagi makhluk Allah lainnya.

Bermanfaat bagi orang lain adalah sepenggal kisah kehidupan yang mulai mengukir secuil cerita tentang empati. Bukan menerima tapi memberi, sebab tak ada satupun yang mampu mengembalikan semua harga yang telah dikorbankan, kecuali Allah.. sehingga pada akhirnya… bermanfaat bagi orang lain akan bermakna keringanan. Bermanfaat bagi orang lain, adalah sebuah gambaran sederhana dari kesempurnaan cinta, sebab tidak sempurna keimanan seseorang sebelum ia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri.

Bermanfaat bagi orang lain adalah wujud kekokohan ukhuwah, sebab sebuah prinsip sederhana berjudul “itsar” akan diwujudkan disini. Mendahulukan saudaranya, sekalipun ia amat membutuhkan. Pada akhirnya hal inipun akan berujung kemuliaan.

Bermanfaat bagi orang lain adalah wujud dari sebuah kelapangan, kesabaran, serta kesadaran akan keberadaan dirinya dan manusia lain. Maka, jadilah sebaik-baik manusia; bermanfaat bagi orang lain.

(*sudahkah Anda????)

“Untuk mengetahui ilmumu bermanfaat atau tidak, cukuplah kau lihat bekasnya. Jika dengan itu kau semakin takut kepada Allah dan semakin baik ibadahmu kepada-Nya, maka itulah tanda ilmumu benar-benar bermanfaat. Jika sebaliknya, maka berhati-hatilah…” (El-Shirazy, H. 2007)

Alhamdulillah.. akhirnya aku bisa menuntaskan membaca buku Ketika Cinta Bertasbih 1. Sebenarnya buku ini sudah aku punyai semenjak bulan Juni kemarin. Tapi belum ada kesempatan untuk membaca.. Sampe keduluan di’perawanin’ temenku, hwehehe… Eh, setelah baca.. Subhanallah.. baguuus banget.. TOP BGT dah Kang Abik ntuh.. kalo bikin novel selalu menarik!!! Nggak kalah sama novel AAC (Ayat-Ayat Cinta). Jadi nggak sabar pengen punya KCB yang episode ke-2. Mumpung belum keduluan filmnya khan… Hehe.. lebih sip bgt memang kalo kita baca novelnya langsung.. lebih detail dan ’mengena’ di jiwa.. atau lebih tepatnya novel-novel karya beliau tersebut mampu membangun atau memperkaya jiwa kita. (lebih…)


Saat kita ingin mendapatkan malam keagungan, Lailatul Qadar, yang terbatas terbatas pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan maka seyogyanya kita bersemangat dan bersungguh-sungguh pada setiap malam dari malam-malam tersebut, dengan shalat, dzikir, do’a, taubat dan istighfar. Mudah-mudahan dengan demikian kita mendapatkan Lailatul Qadar, sehingga Insya Allah kita bisa berbahagia dengan kebahagiaan yang kekal yang tiada penderitaan lagi setelahnya. Di malam-malam tersebut, hendaknya kita berdo’a dengan do’a-do’a bagi kebaikan dunia-akhirat yang diantaranya adalah sebagai berikut:

“Ya Allah, perbaikilah untukku agamaku yang merupakan penjaga urusanku, dan perbaikilah untukku duniaku yang di dalamnya adalah kehidupanku, dan perbaikilah untukku akhiratku yang kepadanya aku kembali, dan jadikanlah kehidupan (ini) menambah untukku dalam setiap kebaikan, dan kematian menghentikanku dari setiap kejahatan. Ya Allah bebaskanlah aku dari (siksa) api Neraka, dan lapangkanlah untukku rizki yang halal, dan palingkanlah daripadaku kefasikan jin dan manusia, wahai Dzat Yang Hidup dan terus menerus mengurus (makhluk-Nya)”

“Wahai Tuhan kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan jagalah kami dari siksa Neraka. Wahai Dzat Yang Hidup lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya), wahai Dzat Yang Memiliki Keagungan dan Kemuliaan. ”

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon hal-hal yang menyebabkan (turunnya) rahmat-Mu, ketetapan ampunan-Mu, keteguhan dalam kebenaran dan mendapatkan segala kebaikan, selamat dari segala dosa, kemenangan dengan (mendapat) Surga serta selamat dari Neraka. Wahai Dzat Yang Maha Hidup dan terus menerus mengurusi makhluk-Nya, Wahai Dzat yang memiliki Keagungan dan Kemuliaan. ”

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu pintu-pintu kebajikan, kesudahan (hidup) dengannya serta segala yang menghimpunnya, secara lahir-batin, di awal maupun di akhirnya, secara terang- terangan maupun rahasia. Ya Allah, kasihilah keterasinganku di dunia dan kasihilah kengerianku di dalam kubur serta kasihilah berdiriku di hadapanmu kelak di akhirat. Wahai Dzat Yang Maha hidup, yang memiliki Keagungan dan Kemuliaan. ”

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, ‘afaaf (pemeliharaan dari segala yang tidak baik) serta kecukupan. “

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, mencintai pengampunan maka ampunilah aku.

“Ya Allah, aku mengharap rahmat-Mu maka janganlah Engkau pikulkan (bebanku) kepada diriku sendiri meski hanya sekejap mata, dan perbaikilah keadaanku seluruhnya, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. ”

“Ya Allah, jadikanlah kebaikan sebagai akhir dari semua urusan kami, dan selamatkanlah kami dari kehinaan dunia dan siksa akhirat. ”

“Ya Tuhan kami, terimalah (permohonan) kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui, wahai Dzat Yang Maha Hidup, yang memiliki keagungan dan kemuliaan.”

“Semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, segenap keluarga dan para sahabatnya.

Gambar diambil dari: http://maramissetiawan.wordpress.com

Rasulullah SAW bersabda, “Carilah Lailatul Qadar pada (bilangan) ganjil dari sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Yang dimaksud dengan malam-malam ganjil yaitu malam dua puluh satu, dua puluh tiga, dua puluh lima, dua puluh tujuh, dan malam dua puluh sembilan. Nah, disini terlihat sekali bahwa Rasulullah SAW menganjurkan “Nge-browsing” Lailatul Qadar pada bulan Ramadhan, khususnya pada malam-malam ganjil.

Adapun Qiyamul lail di dalamnya yaitu menghidupkan malam tersebut dengan tahajud, shalat, membaca Al-Qur’anul Karim, dzikir, do’a, istighfar dan taubat kepada Allah Ta ‘ala. Sangat dianjurkan memperbanyak do’a terutama doa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW yang berbunyi:

“Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anna (Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, Engkau mencintai Pengampunan maka ampunilah aku).” (HR.Tirmidzi dan Ibnu Majah, hadis hasan shahih).

Saudaraku, ingatlah bahwa Lailatul Qadar adalah bonus terakhir bagi setiap muslim dan mukmin yang dapat menjalani bulan Ramadhan dengan baik. Jadi semangat untuk mengisi bulan Ramadhan tidak hanya di awal-awal saja, di tengah-tengah saja, atau hanya di akhir bulan Ramadhan. Tapi tetap berusaha untuk mengisi Ramadhan dengan kebaikan dan amal ibadah sebulan penuh lamanya. (lebih…)

Laman Berikutnya »