‘Never judge a book from it’s cover,’ tentunya ungkapan tersebut tidak lagi asing di telinga kita, ungkapan ini seringkali dilontarkan untuk mengingatkan seseorang agar tidak cepat-cepat mengambil kesimpulan mengenai kepribadian seseorang berdasarkan penampilan awal mereka, baik itu kesimpulan yang negatif maupun yang positif.


Dalam maknanya yang tersirat, ungkapan ini meminta kita untuk tidak terburu-buru memberikan kesimpulan akhir pada sebuah buku sebelum membacanya halaman per halaman dari awal hingga akhir (from cover to cover). Misalnya saja, jika pada halaman-halaman awal sebuah buku terasa membosankan, adalah ketergesa-gesaan jika kita kemudian menjadikan kenyataan tersebut sebagai dasar bahwa buku tersebut membosankan dan buruk bagi kita hingga kita memiliki alasan untuk ‘mencampakkannya’, bisa saja pada halaman pertengahan hingga akhir buku tersebut memberikan kejutan-kejutan menarik yang pada akhirnya membuat kita kemudian beralih memberikan penilaian yang baik tentang buku tersebut, bahkan merekomendasikan buku tersebut pada orang lain.


Kenyataannya, ada buku yang judulnya tampak tak menarik namun ketika membacanya kita serasa dihanyutkan oleh isinya yang luar biasa, belum lagi manfaatnya bagi peningkatan kualitas diri kita. Namun ada juga buku yang judulnya sangat menarik begitupula rantaian kalimat-kalimatnya, namun ternyata memiliki pengaruh yang buruk bagi kita. Begitu beragam, begitu misterius, namun begitu menarik….demikian pula halnya dengan kita, manusia.


Manusia tentu saja tidak bisa disamakan dengan buku, namun setiap petuah pastilah menyimpan kearifan yang mendalam, maka adalah sikap yang bijak jika kita kemudian menjadikan petuah di atas sebagai pedoman kita dalam berhubungan dengan sesama manusia. Bukan untuk membuat kita semakin memperbesar rasa curiga kita, atau melebih-lebihkan sikap kehati-hatian kita dalam bergaul, namun sebaliknya agar kita menjadi lebih arif dalam menyikapi kelemahan-kelemahan orang lain.


Jika buku hanyalah merupakan objek pasif yang ditulis oleh sang subjek, maka manusia adalah subjek sekaligus objeknya, ia adalah tulisan yang ia tulis sendiri. Manusialah yang bertanggung jawab atas citra dirinya sendiri. Tidak seperti sebuah benda mati, manusia memiliki kemampuan untuk berpikir, merenung, menghayati setiap perjalanan hidupnya, setiap perilakunya, karenanya manusia memiliki potensi untuk mengubah dirinya, mengubah citranya, mengubah tulisan yang tadinya membosankan dan tidak berguna menjadi tulisan yang menarik dan bermanfaat bagi para pembacanya. Karenanya selagi manusia tersebut masih diberi kesempatan untuk terus ‘menulis’, tetap tidak boleh ada kesimpulan baku mengenai dirinya.


Setiap kita pasti pernah mengalami kekecewaan karena keburukan sikap orang lain, namun apakah bijak bila kemudian kita gegabah memberikan kesimpulan yang buruk mengenai orang tersebut, sementara Tuhan masih memberinya kesempatan untuk menutup akhir kehidupannya dengan kebaikan?


Setiap kita juga pasti pernah mengecewakan orang lain dengan sikap buruk kita, karenanya apakah juga bijak bila kita menyepelekan kesempatan yang diberikan oleh Tuhan dengan terus menerus melakukan perbuatan serupa? Relakah kita bila kemudian berakhir bagaikan sebuah buku yang tidak menarik dan tidak berguna, yang hanya dikenang dan dihujat keburukannya, atau bahkan tidak patut untuk dikenang sama sekali?


Karena kitalah yang mengawali penulisannya di halaman pertama, maka kitalah yang menentukan bagaimana kita akan menutupnya pada halaman terakhir.


Selamanya, Tuhanlah penguasa kebenaran dan kesempurnaan.