Islami


Assalamu’alaikum wr. Wb.

Ukhti sayang, bagaimana kabar keimanan hari ini?

Semoga Allah selalu menguatkannya dari waktu ke waktu, terutama pada sepuluh malam terakhir di bulan ramadhan ini.

Ya, tak terasa bulan mulia ini akan segera berakhir. Parade kebarokahan dan kebaikan yang berlipat-lipat ganda menjelang usai. Sebuah bulan yang kepergiannya selalu diiringi tangis para pencintanya. Sebuah bulan yang keberlaluannya selalu menghadirkan kerinduaan hingga para pencintanya selalu berharap setiap bulan adalan ramadhan. Hari-hari dimana siang-siangnya adalah siang-siang yang utama, malam-malamnya adalah malam-malam yang utama. Setiap detiknya adalah desiran udara syurgawi yang harganya tak terperi…

Saudariku sayang,

Di akhir bulan kemuliaan ini, jangan sampai tertipu hiruk pikuk menjelang ‘idul fitri (baju baru, sepatu baru, kue-kue nikmat, kesempatan untuk dapat melampiaskan nafsu lagi??) Sebuah hari kemenangan… bagi siapa? Benarkah kita adalah pemenang pada bulan suci ini? Benarkah kita adalah orang-orang yang sangat layak merayakannya? Benarkah kitalah orang-orang bertaqwa itu? Kitakah yang dosa-dosanya terampuni dan terbebas dari api neraka? Kebaikan dan perbaikan apa yang telah kita peroleh sejauh ini? Ataukah kita hanya penggembira yang sejatinya tidak mendapatkan apapun selama bulan yang penuh barokah ini? (lebih…)

Ternyata kita masih di sini. Di dunia ini. Hidup dan belum mati. Mungkin ada duka di antara kita. Yang sakit, yang dicoba, atau yang diuji dengan bencana. Tapi sesungguhnya, keseluruhan hidup kita adalah karunia. Di tubuh kita ada banyak tanda cinta-Nya. Mata, telinga, mulut, tangan, dan banyak lagi lainnya. Di sekeliling kita banyak perlambang kasih sayang-Nya. Ada udara yang kita hirup cuma-cuma. Meski tak semuanya segar. Ada matahari yang bersinar terang. Ada hujan yang setia membasahi tanah-tanah kering dan bebatuan.

Alangkah luas kasih sayang Allah. Allah SWT mengingatkan kita, “Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesugguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS.An-Nahl ayat18).

Saudaraku,
Tetapi, lebih dari itu. Ada cinta dan kasih sayang yang sangat diperlukan manusia. Yaitu ampunan Allah atas hamba-hamba-Nya. Perhatikanlah dalam-dalam, bagaimana Rasulullah menggambarkan besarnya cinta dan kasih sayang Allah kepada hamba-Nya yang bahkan telah melakukan kesalahan. Asalkan mereka mau bertaubat.

“Sungguh Allah lebih berbahagia dengan taubat hamba-Nya ketimbang seorang yang kehilangan hewan kendaraannya di daerah tak bertuan. Hewan beserta makanan, minuman dan segala perbekalannya hilang. Orang itu putus asa untuk menemukan hewan kendaraannya. Ia datang ke sebuah pohon dan tertidur di bawah naungannya. Tapi tiba-tiba ketika bangun, hewan yang hilang itu berdiri di sisinya. Ia pun memegang tali kekangnya. Saking gembiranya ia salah ucap dan mengatakan, “Ya Allah engkau hambaku sedang aku Tuhanmu…” (HR Muslim).

Apa yang terlintas dalam benak kita, jika orang yang sangat kita cintai dan kita kasihi ditawan musuh? Kita tidak bisa melihat dan mendekatinya, padahal kita tahu kekejaman dan keburukan musuh itu. Mungkin ia akan menyiksa orang yang sangat kita cintai itu. Tapi ternyata kemudian, orang yang kita kasihi itu dapat melepaskan diri dari cengkraman musuh, lalu ia datang kepada kita tanpa diduga. Kita pasti sangat gembira dan bahagia.

Kita tentu tidak sedang menyamakan bahagia manusiawi kita dengan bahagia Allah. Karena itu tidak dibolehkan. Tetapi yang pasti, orang yang bertaubat kepada Allah dari lumpur dosa dan kedzaliman, sama dengan orang yang berlepas diri dari tawanan syetan dan hawa nafsu. Ia terbebas lalu kembali ke jalan yang semestinya.

(lebih…)

Sesungguhnya, bermanfaat bagi orang lain adalah sebuah keindahan yang tidak bisa digambarkan dengan barisan kata-kata. Bermanfaat untuk orang lain adalah sebuah investasi yang memang sengaja ditanam, sebab sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling bermanfaat bagi makhluk Allah lainnya.

Bermanfaat bagi orang lain adalah sepenggal kisah kehidupan yang mulai mengukir secuil cerita tentang empati. Bukan menerima tapi memberi, sebab tak ada satupun yang mampu mengembalikan semua harga yang telah dikorbankan, kecuali Allah.. sehingga pada akhirnya… bermanfaat bagi orang lain akan bermakna keringanan. Bermanfaat bagi orang lain, adalah sebuah gambaran sederhana dari kesempurnaan cinta, sebab tidak sempurna keimanan seseorang sebelum ia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri.

Bermanfaat bagi orang lain adalah wujud kekokohan ukhuwah, sebab sebuah prinsip sederhana berjudul “itsar” akan diwujudkan disini. Mendahulukan saudaranya, sekalipun ia amat membutuhkan. Pada akhirnya hal inipun akan berujung kemuliaan.

Bermanfaat bagi orang lain adalah wujud dari sebuah kelapangan, kesabaran, serta kesadaran akan keberadaan dirinya dan manusia lain. Maka, jadilah sebaik-baik manusia; bermanfaat bagi orang lain.

(*sudahkah Anda????)

“Untuk mengetahui ilmumu bermanfaat atau tidak, cukuplah kau lihat bekasnya. Jika dengan itu kau semakin takut kepada Allah dan semakin baik ibadahmu kepada-Nya, maka itulah tanda ilmumu benar-benar bermanfaat. Jika sebaliknya, maka berhati-hatilah…” (El-Shirazy, H. 2007)


Saat kita ingin mendapatkan malam keagungan, Lailatul Qadar, yang terbatas terbatas pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan maka seyogyanya kita bersemangat dan bersungguh-sungguh pada setiap malam dari malam-malam tersebut, dengan shalat, dzikir, do’a, taubat dan istighfar. Mudah-mudahan dengan demikian kita mendapatkan Lailatul Qadar, sehingga Insya Allah kita bisa berbahagia dengan kebahagiaan yang kekal yang tiada penderitaan lagi setelahnya. Di malam-malam tersebut, hendaknya kita berdo’a dengan do’a-do’a bagi kebaikan dunia-akhirat yang diantaranya adalah sebagai berikut:

“Ya Allah, perbaikilah untukku agamaku yang merupakan penjaga urusanku, dan perbaikilah untukku duniaku yang di dalamnya adalah kehidupanku, dan perbaikilah untukku akhiratku yang kepadanya aku kembali, dan jadikanlah kehidupan (ini) menambah untukku dalam setiap kebaikan, dan kematian menghentikanku dari setiap kejahatan. Ya Allah bebaskanlah aku dari (siksa) api Neraka, dan lapangkanlah untukku rizki yang halal, dan palingkanlah daripadaku kefasikan jin dan manusia, wahai Dzat Yang Hidup dan terus menerus mengurus (makhluk-Nya)”

“Wahai Tuhan kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan jagalah kami dari siksa Neraka. Wahai Dzat Yang Hidup lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya), wahai Dzat Yang Memiliki Keagungan dan Kemuliaan. ”

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon hal-hal yang menyebabkan (turunnya) rahmat-Mu, ketetapan ampunan-Mu, keteguhan dalam kebenaran dan mendapatkan segala kebaikan, selamat dari segala dosa, kemenangan dengan (mendapat) Surga serta selamat dari Neraka. Wahai Dzat Yang Maha Hidup dan terus menerus mengurusi makhluk-Nya, Wahai Dzat yang memiliki Keagungan dan Kemuliaan. ”

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu pintu-pintu kebajikan, kesudahan (hidup) dengannya serta segala yang menghimpunnya, secara lahir-batin, di awal maupun di akhirnya, secara terang- terangan maupun rahasia. Ya Allah, kasihilah keterasinganku di dunia dan kasihilah kengerianku di dalam kubur serta kasihilah berdiriku di hadapanmu kelak di akhirat. Wahai Dzat Yang Maha hidup, yang memiliki Keagungan dan Kemuliaan. ”

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, ‘afaaf (pemeliharaan dari segala yang tidak baik) serta kecukupan. “

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, mencintai pengampunan maka ampunilah aku.

“Ya Allah, aku mengharap rahmat-Mu maka janganlah Engkau pikulkan (bebanku) kepada diriku sendiri meski hanya sekejap mata, dan perbaikilah keadaanku seluruhnya, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. ”

“Ya Allah, jadikanlah kebaikan sebagai akhir dari semua urusan kami, dan selamatkanlah kami dari kehinaan dunia dan siksa akhirat. ”

“Ya Tuhan kami, terimalah (permohonan) kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui, wahai Dzat Yang Maha Hidup, yang memiliki keagungan dan kemuliaan.”

“Semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, segenap keluarga dan para sahabatnya.

Gambar diambil dari: http://maramissetiawan.wordpress.com

Rasulullah SAW bersabda, “Carilah Lailatul Qadar pada (bilangan) ganjil dari sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Yang dimaksud dengan malam-malam ganjil yaitu malam dua puluh satu, dua puluh tiga, dua puluh lima, dua puluh tujuh, dan malam dua puluh sembilan. Nah, disini terlihat sekali bahwa Rasulullah SAW menganjurkan “Nge-browsing” Lailatul Qadar pada bulan Ramadhan, khususnya pada malam-malam ganjil.

Adapun Qiyamul lail di dalamnya yaitu menghidupkan malam tersebut dengan tahajud, shalat, membaca Al-Qur’anul Karim, dzikir, do’a, istighfar dan taubat kepada Allah Ta ‘ala. Sangat dianjurkan memperbanyak do’a terutama doa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW yang berbunyi:

“Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anna (Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, Engkau mencintai Pengampunan maka ampunilah aku).” (HR.Tirmidzi dan Ibnu Majah, hadis hasan shahih).

Saudaraku, ingatlah bahwa Lailatul Qadar adalah bonus terakhir bagi setiap muslim dan mukmin yang dapat menjalani bulan Ramadhan dengan baik. Jadi semangat untuk mengisi bulan Ramadhan tidak hanya di awal-awal saja, di tengah-tengah saja, atau hanya di akhir bulan Ramadhan. Tapi tetap berusaha untuk mengisi Ramadhan dengan kebaikan dan amal ibadah sebulan penuh lamanya. (lebih…)

Muslim shalih bukan hanya ada di Ramadhan, masa Qiyamul Lail (Tarawih-red) bukan hanya di Ramadhan, demonstrasi ketertundukan bukan hanya di Ramadhan. Karena sesunggguhnya setiap hari, setiap jam, setiap menit dan detik, adalah masa-masa ibadah, taat, syukur, dan tunduk kepada syariat Allah SWT.

Namun Ramadhan memang menyimpan banyak bonus dan keagungan yang tak terhingga untuk manusia. Suasana kehidupan Ramadhan diikat dengan ibadah yang tiada putus, siang atau malam. Siang melakukan puasa, suatu ibadah yang terus melekat pada manusia kemanapun dia pergi. Ketika detik-detik muslim dipenuhi dengan segala aktivitas ibadah itulah, syetan tidak mempunyai ruang gerak yang leluasa. Karena segala ruang dalam hidup dan jiwa kita telah kita isi dengan kepatuhan kepada Allah. Dan lalu karenanya pintu-pintu surga dibuka lebar-lebar sedangkan pintu neraka ditutup. Rasulullah SAW bersabda, ”Jika Ramadhan tiba dibukalah pintu-pintu surga dan ditutuplah pintu-pintu neraka, dan setan-setan dibelenggu.” (HR. Bukhari dan Muslim) (lebih…)

Bila waktu tidak digunakan dengan baik maka akan terbuang untuk perkara yang sia-sia. Semua orang merasakan hal itu. Maka jika seseorang tidak mengisi waktunya dengan kebaikan, ia akan menghabiskan waktunya untuk kejelekan. Orang yang tidak mengambil faedah dari waktu mereka, menyia-nyiakannya untuk perkara yang merugikan, maka waktunya itu akan menjadi padang rumput bagi syetan-syetan yang senantiasa membolak-balikkannya dalam kesesatan. Na’udzubillah.

Orang-orang yang sadar akan cepatnya waktu berlalu, mereka adalah orang-orang yang mendapatkan taufik dari Allah sehingga waktu mereka benar-benar bermanfaat. Dari Abdullah Ibnu Mas’ud RA bahwasanya dia berkata: “Tidaklah aku menyesali sesuatu, seperti penyesalanku atas suatu hari yang berlalu dengan terbenamnya matahari, semakin berkurang umurku tetapi tidak bertambah amalanku.”

Maka perlu Anda ketahui beberapa hal wahai ukhti muslimah tentang bagaimana memanfaatkan waktumu:

1. Membaca bacaan yang bermanfaat

Wahai ukhti muslimah, hendaklah engkau memperbanyak membaca Al-Qur’anul Karim dan menghafal serta mendengarkannya. Rasul SAW bersabda:

“Orang yang membaca Al-Qur’an sedang dia terbata-bata dalam membacanya serta kesulitan dalam membacanya maka dia mendapatkan dua pahala, sedangkan orang yang membaca dengan mahir maka dia bersama para penulis kitab (malaikat) yang mulia lagi berbakti.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Selain itu perbanyaklah membaca bacaan-bacaan yang bermanfaat yang dapat menambah ilmu dan wawasanmu.

(lebih…)


Oleh : Qosim Nursheha Dzulhadi

“Hendaklah kalian mengingat Tuhan kalian, dan shalatlah kalian di awal waktu. Sesungguhnya Allah `Azza wa Jalla melipat gandakan pahala kalian” (HR. Al-Thabrani)

Shalat adalah “komunikasi langsung” dengan sang Khaliq. Langsung karena tidak boleh “diwakilkan” oleh orang lain. Atau, tidak boleh digantikan oleh amalan apapun, karena ia sarana percakapan hamba dengan penciptanya.

Sungguh indah kehidupan seorang Muslim dengan Tuhannya. Setiap hari, lima kali ia menghadap kepada-Nya. Belum lagi shalat-shalat tambahan (nawafil), seperti Dhuha, Witir, Tahajjud, Hajat, dsb. Saat itulah sang hamba memuji Tuhannya, mensucikan, memohon pertolongan, meminta rahmat, hidayah dan ampunan kepada-Nya.

Shalat, menurut Rasulullah saw “bak” sungai yang mengalir di depan pintu rumah seorang Muslim. Dari Abu Hurairah ra, beliau berkata: “Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: “Bagaimana pendapat kalian seandainya di depan pintu seorang dari kalian terdapat sebuah sungai. Setiap hari ia mandi lima kali di dalamnya. Apakah masih ada kotoran yang melekat di tubuhnya?” Mereka menjawab: “Tidak ada!” Rasulullah berkata: “Itulah perumpamaan shalat lima waktu, dengannya Allah menghapus semua kesalahan” (Muttafaq `Alaih).

Dari Jabir ra, ia berkata: “Rasulullah saw bersabda: “Perumpamaan shalat lima waktu seperti sebuah sungai yang melimpah, yang mengalir di depan pintu rumah seorang dari kalian. Ia mandi di dalamnya setiap hari lima kali” (HR. Muslim).

Subhanallah! Begitu pemurahnya Allah kepada kita. Dosa-dosa kita dihapus hanya dengan shalat lima waktu. Kesalahan kita berguguran di sungai “penghapus dosa”. Tidak ada kenikmatan, selain kenikmatan bermunajat kepada Allah lewat shalat. Shalat dijadikan oleh Rasulullah saw sebagai “permata hati” (qurah `ain). Dalam sebuah haditsnya yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, Rasulullah berkata kepada Bilal: “Ya Bilal! Aqim al-shalah wa arihna biha (Hai Bilal! Dirikanlah shalat dan rehatkan kami dengannya). Bahkan akhir dari wasiat beliau adalah: “shalat” (HR. Ibnu Majah). (lebih…)

« Halaman SebelumnyaHalaman Berikutnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.