Jumat, Oktober 17th, 2008


Mari sejenak kita perhatikan, berbagai fakta ini,

Ada pohon yang bisa memberikan manfaat kepada manusia, dan ada juga pohon yang sama sekali tidak ada gunanya. Ada pohon yang bisa berguna sebagai makanan atau bahkan sebagai obat, tapi ada juga pohon yang justru menjadi beban dan membawa penyakit.

Ada pohon yang akarnya begitu kuat mencengkram tanah dan dahannya tinggi menjulang ke langit, sementara ada pula pohon yang akarnya lemah, batangnya kurus dan tidak bisa berdiri tegak.

Ada pohon yang begitu indah dan menarik orang untuk melihatnya, tapi ia hanya layak untuk menjadi pajangan atau hiasan saja.

Ada pohon yang batangnya kokoh dan akarnya kuat sehingg ia mampu melawan terpaan angin. Tapi ada yang hanya dengan tiupan angin perlahan, ia sudah tumbang.

Diantara pohon-pohon itu manakah yang mempunyai kemiripan sifat-sifatnya dengan kita? Siapakah kita? Pohon yang menebar manfaatkah, atau pohon yang justru menebar penyakit? Pohon yang kuat dan kokohkah, atau pohon yang lemah dan tak memiliki akar? Pohon yang indah dan menarik sajakah, tapi hanya sebagai hiasan belaka? Pohon yang kuat melawan terpaan anginkah, atau pohon yang mudah patah oleh sekedar tiupan?

Boleh jadi sekarang kita masih menjadi pohon yang lemah dan mudah patah, belum bisa bermanfaat serta masih sekedar hiasan. Tapi dalam kebersamaan ini, kita akan menempa diri untuk menjadi pohon yang indah, dahannya kuat, menjulang, kokoh, dan menebar manfaat. Yang dirindukan dikala terik dan hujan…
“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.” (QS. Ibrahim : 24-25).

Keimanan manusia tidak selamanya bisa berjalan pada satu garis lurus.. Ada kalanya keimanan itu naik tapi ada kalanya turun.. begitu juga pada saat penerapan dan pelaksanaan akidah agama. Ada kalanya malas dan ada kalanya terlalu rajin.. Gimana sih cara menjaga iman kita agar tetap stabil? Trus gimana juga cara menjaga hati kita agar tetap bersih dan bisa mempunyai hati seluas samudera yang bisa ikhlas menerima apapun yang terjadi dengan mengharap ridha’ Allah…
Tips-tips dari link tetangga berikut semoga bisa menjadi jalan agar kita bisa tetap menjaga kestabilan iman kita..

1. Menanam pemahaman yang benar, kuat dan dalam

Aqidah dan pemahaman Islam itu ibarat tumbuhan, bila tidak memiliki akar yang kuat menghujam ke dalam bumi, maka dia tidak akan bisa tegak berdiri. Angin sepoi-sepoi yang berhembus sudah dapat membuatnya roboh. Sebaliknya, pohon yang akarnya menghujam kebumi tidak akan bergerak meski angin ribut bercampur badai mengamuk. (lagi…)

Bismillahirrahmanirrahim..

Setiap muslim pasti bercita-cita untuk mendapatkan cinta Allah. Sebab bila kita sudah menjadi kekasihNya, seluruh kebaikan duniawi dan ukhrawi bisa kita gapai dengan mudah.
Persoalannya, bagaimana agar cita-cita tersebut menjadi kenyataan? Sesungguhnya banyak cara yang bisa kita lakukan untuk menggapai cintaNya, diantaranya adalah:

Pertama
Membaca, memahami, dan mengamalkan Al Qur’an. Cara ini akan melahirkan cinta dan kerinduan kepadaNya, syukur dan sabar, tawadhu (rendah hati) dan khusyu, serta seluruh sifat yang bisa mengantarkan pada cinta dan ridhaNya. (Ibnu Rajab, Ikhtiyar Al Ula, hal 114)

Ini adalah sebuah kitab yang Kami (Allah) turunkan kepadamu, yang didalamnya penuh berkah, supaya mereka memperhatikan ayat-ayatNya dan supaya mendapatkan pelajaran orang-orang yang mau menggunakan akalnya”. (QS Shaad ayat 29)

Al Qur’an adalah kitab suci yang harus difahami, bukan sekedar dibaca. Fakta menunjukkan, banyak yang rajin membaca Al Qur’an tapi tidak faham isinya, sehingga tidak bersemangat untuk mengamalkannya. Untuk itu, biasakan juga membaca terjemahannya untuk membantu pemahaman. Pengalaman menunjukkan, awalnya memang agak susah mencerna maksud terjemahan Qur’an, namun kalau kita sering membacanya, lama kelamaan akan mudah memahaminya. Sebenarnya ini berlaku untuk semua ilmu, kalau kita tidak pernah membaca buku-buku psikologi misalnya, akan susah mencerna isinya, tapi kalau sudah sering, insya Allah kesulitan ini bisa diatasi. Saat membaca Al Qur’an, para sahabat mengutamakan pemahaman dan implementasi/pengamalan. (lagi…)

Joko (bukan nama sebenarnya), seorang mahasiswa tingkat dua. Pakaian cowok ganteng ini selalu modis, parlente. Setiap hari berangkat ke kampus dengan membawa mobil dan HP yang paling canggih. Makanannya adalah sebaik-baik makanan. Hidupnya dihabiskan untuk hura-hura, pesta dan ke diskotik. Kemewahan hidup membuatnya lalai dari kewajibannya sebagai hamba Allah.

Sita, mahasiswi tingkat satu. Kecantikannya subhanallah. Make up yang digunakannya bisa menghabiskan ratusan ribu rupiah. Pakaian yang dikenakannya bila ditotal dari baju, celana hingga sepatu, bisa bernilai jutaan rupiah! Rokok adalah bagian hidupnya. Sebagian kalangan yang berusia muda berdalih bahwa mereka ingin menikmati masa mudanya. (lagi…)