Sabtu, September 13th, 2008


Ini cerita tentang Anisa, seorang gadis kecil yang ceria berusia lima tahun. Pada suatu sore, Anisa menemani Ibunya berbelanja di suatu supermarket. Ketika sedang menunggu giliran membayar, Anisa melihat sebentuk kalung mutiara mungil berwarna putih berkilauan, tergantung dalam sebuah kotak berwarna pink yang sangat cantik.

Kalung itu nampak begitu indah, sehingga Anisa sangat ingin memilikinya. Tapi… Dia tahu, pasti Ibunya akan berkeberatan. Seperti biasanya, sebelum berangkat ke supermarket dia sudah berjanji tidak akan meminta apapun selain yang sudah disetujui untuk dibeli.

Dan tadi Ibunya sudah menyetujui untuk membelikannya kaos kaki ber-renda yang cantik. Namun karena kalung itu sangat indah, diberanikannya bertanya. “Ibu, bolehkah Anisa memiliki kalung ini ? Ibu boleh kembalikan kaos kaki yang tadi… ” Sang Bunda segera mengambil kotak kalung dari tangan Anisa. Dibaliknya tertera harga Rp 15,000.

Dilihatnya mata Anisa yang memandangnya dengan penuh harap dan cemas. Sebenarnya dia bisa saja langsung membelikan kalung itu, namun ia tak mau bersikap tidak konsisten… “Oke … Anisa, kamu boleh memiliki Kalung ini. Tapi kembalikan kaos kaki yang kau pilih tadi. Dan karena harga kalung ini lebih mahal dari kaos kaki itu, Ibu akan potong uang tabunganmu untuk minggu depan. Setuju ?” (lagi…)

Allah SWT dalam salah satu ayat Al-Quran berfirman, ”Kalian semua tidak akan pernah mendapatkan kebaikan sebelum kalian mendermakan sebagian harta yang kalian cintai. Ketahuilah, segala apa yang kalian dermakan pasti Allah mengetahuinya.” (Ali ‘Imran: 92).

Dalam salah satu hadis shahih, Ibnu Abbas bercerita, Rasulullah SAW adalah sosok manusia paling dermawan dalam kebaikan apa pun. Hal itu makin beliau tingkatkan selama bulan Ramadhan, pada waktu Malaikat Jibril datang menemui beliau setiap malam untuk menyampaikan wahyu Allah dan mendengarkan bacaan tadarus Al-Quran yang telah Nabi Mumammad SAW terima. Pada saat Jibril menemui beliau, tergambar bahwa kedermawanan Nabi itu sebanding, bahkan melebihi dari angin kencang yang bertiup. (HR Bukhari).

Salah satu dari sifat mulia yang dimiliki oleh Nabi Muhammad SAW adalah sifat dermawan. Dalam satu hadis lain, Anas bin Malik berkata, ”Nabi SAW itu adalah sosok pemberani dan penderma.” (HR Bukhari). Di hadis lain, Anas juga pernah mendengar langsung Nabi SAW bersabda, ”Saya adalah salah satu anak keturunan Nabi Adam yang paling penderma. Dan orang-orang yang termasuk ke dalam golongan penderma setelah aku adalah orang-orang berilmu yang menyebarkan ilmunya, juga orang-orang yang mendermakan dirinya di jalan Allah.” (HR Tirmidzi).

Dalam riwayat lain yang juga disampaikan oleh Ibnu Abbas, digambarkan bahwa sosok Nabi SAW itu tidak pernah mengecewakan orang-orang yang meminta segala sesuatu kepada beliau. Beliau pasti memberikan apa yang diminta, jika memang beliau sendiri memilikinya. Kata Ibnu Abbas, ”Tidak ada yang meminta sesuatu pun kepada Nabi SAW, selain pasti diberikannya.” (HR Ahmad).

Dalam kesempatan yang lain, Jabir, salah satu sahabat Nabi SAW, menggambarkannya demikian pula, ”Rasulullah SAW tidak pernah diminta sesuatu oleh seseorang kemudian menjawab tidak (menolaknya).” (HR Ahmad).

Dermawan merupakan salah satu sifat yang paling terpuji dan mulia. Orang yang dermawan pada hakikatnya merupakan bentuk konkret dalam meneladani sifat Allah dan Rasul-Nya. Dalam salah satu riwayat yang disampaikan oleh Anas bin Malik, Rasulullah SAW bersabda, ”Sesungguhnya Allah itu Zat yang Maha Penderma, karena itulah Dia menyukai sifat dermawan.” (HR Tirmidzi). Dengan demikian, tidak ada alasan bagi umat manusia untuk bersifat kikir atau bakhil, karena itu berlawanan dengan sifat Allah SWT dan Nabi-Nya.

(lagi…)

Sahabatku…
Bulan Ramadhan telah tiba. Sekarang di masjid-masjid selalu terdengar lantunan ayat suci Al Quran dikumandangkan. Masyarakat berduyun-duyun mengikuti pengajian; mempelajari apa yang ada di dalam Al-Quran dan As Sunnah.

Namun sangat disayangkan, jika kajian-kajian itu berputar-putar pada masalah “fikih zhahir” dari ibadah shaum Ramadhan, masalah batal tidaknya puasa kita. Padahal bukankah kita setiap tahun mendengarkannya? Bukannya tidak boleh, apalagi tidak baik. Hal itu boleh-boleh saja dilakukan selama sesuai dengan proporsinya. Anda pasti tahu ayat-ayat Al-Quran yang berhubungan dengan puasa itu hanya beberapa ayat saja, yang dapat dihitung dengan jari. Sungguh sangat naif jika sekiranya bulan ini kita tidak mengkaji aspek-aspek lain di luar “fikih zhahir” itu tadi.

Ramadhan bulan Al-Quran, mengapa kita tidak mempelajari tema-tema tentang sains dan teknologi, yang mana kita dapat mentafakuri kebesaran Tuhan? Bukankah lebih dari 700 ayat Al Quran berbicara tentang “Ilmu”? Menurut Aisyah ra, ketika ayat Al-Quran yang berisi tentang tanda-tanda kekuasaan Allah yang ada di langit dan di bumi turun, Nabi Muhammad memerintahkan kepada para sahabatnya untuk banyak bertafakur. (lagi…)

Oleh: Rahmat Hidayat Nasution

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS. Al- Baqarah: 183)

Puasa merupakan salah satu rukun Islam, dimana tidak sempurna keislaman seseorang apabila tidak melaksanakannya. Disamping itu, puasa juga merupakan salah satu ibadah yang paling mendalam bekasnya dalam jiwa seorang muslim. Pengalaman selama sebulan dengan pelbagai kegiatan seperti berbuka, sahur dan tarawih berjamaah senantiasa akan membentuk kenangan dan akan merindukan kegiatan yang terdapat di bulan mulia tersebut ketika telah pergi meninggalkan kita.

Kini, bulan yang kita nantikan telah hadir bersama kita kembali begitu juga kegiatan-kegiatan yang ada di dalamnya. Namun sekarang ini yang paling terbaik buat kita di saat menemani bulan yang penuh berkah ini adalah merenungi apa rahasia dari Ibadah puasa yang ada di dalamnya. Puasa yang di wajibkan kepada kita di bulan ini memiliki beragam rahasia yang luar biasa. Dr. Yusuf Al- Qardhawi di dalam bukunya Al – Islam Fi Al-Ibadah menyinggung ada lima rahasia yang bisa kita petik dan rasakan dalam ibadah puasa yang di wajibkan kepada kita sehingga kelak akan merasakan betapa besarnya nikmat yang di berikan Allah Swt. kepada kita:

Menguatkan Jiwa

Hawa nafsu merupakan salah satu musuh manusia yang tidak berwujud tapi ada dan sangat berbahaya, tak sedikit manusia yang tertipu oleh bujukannya yang mengakibatkannya terjerumus ke dalam lembah kemaksiatan. Karena itu, Allah swt menyuruh kita untuk memeranginya dengan artian mengarahkannya ke arah yang baik. Jadi, bukanlah memerangi hawa nafsu itu mengakibatkan kita tidak mempunyai keinginan terhadap sesuatu yang bersifat duniawi. Jika di dalam memeranginya kita mengalami kekalahan maka malapetaka besar yang akan terjadi, kita akan terbujuk oleh rayuan dan bujukan yang akhirnya membawa kita ke jalan yang sesat dan nista. Na’uzubillah. (lagi…)

Kurma adalah buah yang penuh berkah. Rasulullah SAW mewasiatkan kepada kita untuk memakannya ketika mulai berbuka puasa di bulan Ramadhan. Beliau mengutamakan kurma dari menu-menu lainnya. Lalu apa yang dapat diungkapkan oleh ilmu pengetahuan modern tentang khasiat kurma bagi manusia?

Berdasarkan penelitian biokimia, kurma mengandung zat gula sebanyak 70-75% gula, 20-24% air, 2-3% protein, 8,5% serat, dan sangat kecil sekali mengandung kandungan lemak jenuh (lechithine). Ini adalah beberapa fakta yang diperoleh dari hasil penelitian tentang kurma:

  • Mengkonsumsi kurma setiap kali berbuka puasa akan menambah persentase yang besar akan kandungan zat gula, maka dengan ini akan hilang penyakit Anemia sehingga tubuh menjadi bergairah.
  • Saat lambung kosong dari makanan, maka ia akan mudah mencerna dan menyerap makanan kecil yang mengandung gula ini secara cepat dan maksimal.
  • Dengan kandungan air yang tinggi, maka seorang yang puasa tidak harus meminum air dalam jumlah yang banyak ketika berbuka.
  • Kurma dengan sejumlah kandungannya yang ada sangat efektif bagi tubuh manusia, sangat bermanfaat untuk digunakan sebagai alat pencegahan, pengobatan, serta untuk memelihara kesehatan.