DSC02661

Hufffffh…. saya melirik setumpuk berkas dan beberapa buku yang tergeletak di kursi panjang
tempat saya duduk. Ada berkas-berkas pendaftaran yang separuhnya belum saya isi, skripsi yang harus dipelajari kembali dan beberapa buku baru yang terbeli di pertengahan bulan kemarin. Di pojok kamar teronggok kotak dan keresek berisi bahan-bahan flanel, paket pesanan yang akan diantar ke TIKI, foto-foto produk yang belum diedit (pingin dijadikan katalog) dan sederet list pemesan souvenir untuk bulan depan. OMG, betapa sibuknya hari-hari saya

Di hari Minggu ini saya ingin melepas kepenatan, melupakan sejenak aktifitas jahit menjahit.
Saya mencoba merilekskan pikiran saya dengan membuat harum-haruman di dalam kamar. Menyalakan aromaterapi vanilla dan membuka toples berisi potpouri.. Alhamdulillah membuat pikiran sedikit fresh. Saya merebahkan diri di kasur yang empuk, membaca buku “Perfume“-nya Patrick Suskind yang baru sempet saya sentuh, menghirup secangkir teh hangat dan sesekali melirik skripsi. Wkakaka, bingung pisan, udah hampir setahun saya tak mengenyam bangku sekolah atau kuliah, dan ketika dihadapkan pada tulisan-tulisan ilmiah dalam skripsi itu,,, lumayan bikin mumet…
Dulu ketika menyusunnya dan menunggu detik-detik sidang, saya hampir hapal di luar kepala apa yang telah saya tulis dan paparkan. Tapi sekarang…. Kenapa tulisan-tulisan itu jadi begitu asing dan terlupakan?? Jika minggu-minggu ke depan ini tidak menghadapi jadwal-jadwal khusus seperti konsultasi dengan dosen, mengisi formulir pendaftaran, menyiapkan judul penelitian dan tes wawancara, pastilah skripsi itu tetap tak tersentuh dan berdiri manis di rak buku saya.

Ckckckc….

Teringat pula akan beberapa janji untuk menelpon dosen pembimbing, mengambil rekomendasi dan menghubungi beberapa teman saya di FKG yang dulu pernah satu kelompok dalam PKM (Program Kreativitas Mahasiswa).

“Tiit tiiit tiiit…”
Hape saya berbunyi ketika saya sedang mengetik di komputer, menandakan sms masuk. Saya melihat SMS balasan dari seorang al-akh FKG yang dulu menjadi ketua kelompok PKM saya dan pernah menjabat menjadi Ketua BEM.
“Kalo file makalahnya ada, tapi sertifikat atw semacamnya gak ada. Alhamdulillah kabarku baik. Btw selasa aku mw sidang skripsi, doain ya. Thx..”

Weiw.. sedang sibuk mempersiapkan sidang skripsi.. Hmmm, jadi tak berani mengganggunya dengan urusan PKM yang ingin saya minta. Mungkin setelah hari Selasa saya baru akan merepotinnya kembali. Udah lama saya tak berinteraksi lagi dengan teman2 satu tim saya yang berbeda jurusan itu. Padahal dua tahun yang lalu, kami begitu akrab, sibuk dan hampir setiap hari ribut mengerjakan proyek karya ilmiah dari Dikti, wira-wiri kampus A, B, C dan wisata kuliner di Surabaya *kebanyakan acara makan-makannya deh kayaknya*.
Benar-benar momen yang cukup seru, dan yang paling lucunya, kami berlima adalah sama-sama pengemban amanah dakwah dan organisasi di kampus. Dua ikhwan dan tiga akhwat. Pertamanya tak saling mengenal namun tiba-tiba ditakdirkan untuk berkumpul dalam satu tim. Di hari supervisi (pelaporan/ presentasi penelitian) di Rektorat, diantara kelompok-kelompok lainnya, kami adalah kelompok terkompak dan tersolid.. Haha, narsis bener. Gimana tidak kompak, setiap personil dalam kelompok kami mengenakan baju dengan warna yang senada, yakni warna kuning sehingga menyita banyak perhatian, banyak bercanda disaat kelompok lainnya sedang serius-seriusnya belajar dan kompak menjawab setiap pertanyaan dari penguji. Dan yang amat jelas menunjukkan kenarsisannya adalah kami doyan banget pepotoan.. ckckc… dasar kelompok yang aneh ya…

“Orang kok kayak gini, gak masuk akal!” itu adalah salah satu ikon bahan ledekan kami berlima yang menjiplak salah satu iklan permen mint di TV.
Hehe.. bener-bener momen tak terlupakan.

Duuh,,, saya kok jadi curhat gak jelas gini sih.. intinya mah cuma ingin melepaskan sedikit kepenatan dan mengobati rasa rindu saya akan menulis di blog. Udah lama banget gak pernah curhat via blog nih, wkekeke…

Yuuk mari ah, doain saya bisa melalui hari-hari saya ke depan yah dan menyelesaikan segala urusan ini dengan baik ^^

Assalamualaykum….

Pa kabar semuanya? Duh, dah lama nih jarang blogging di WordPress.. Jarang juga balesin komen2 temen-temen semua.. Maap yak maap… Ntar Insya Allah akan coba dibalesin satu2 ;)

Kemana aja sih kemaren? hehe… saya lagi sibuk-sibuknya berkutat dengan kain flanel. Ada yang dah ngerti tentang kain flanel??

Flanel itu  adalah jenis kain yang dibuat dari serat wol, tanpa ditenun. Proses pembuatan kain flanel disebut juga wet felting, yaitu proses pemanasan dan penguapan sehingga menghasilkan jenis kain flanel atau felt yang beragam tekstur dan jenisnya, tergantung dari campuran bahan pembuatnya.

Nih dia contoh kainnya.. Check this out :D

Gambar kain flanel ini diambil dari sini

Nah, trus apa yang saya lakukan dengan kain flanel? saya nyoba2 berkreasi dengan kain itu untuk bikin souvenir dan pernak-pernik. Alhamdulillah kerjaan iseng2 tersebut malah berbuah rejeki.. Banyak yang tertarik buat pesen handmade ini, walopun sebenernya saya masih baru aja belajar hehe…Responnya cukup baik ^_^  Subhanallah, Alhamdulillah…..

Flashdisk Panda versi me ^_^

Gantungan HP Buah-buahan versi me

Souvenir Flanel Cakes *bisa dijadiin souvenir nikahan ato ultah*

Souvenir Flanel Cakes *bisa dijadiin souvenir nikahan ato ultah*

Mini Fruity Chococheese Cakes

Mini Fruity Chococheese Cakes

Ada yang tertarik pengen pesen ;) ?

Saya juga ada toko online lho.. di sini—> http://strawberryflanelcraft.blogspot.com

Di Multiply juga ada: http://aisavitri.multiply.com

Oh ya,,, Spesial buat Kang Insan, makasih banyak dah bantuin saya bikin desain brand buat produk2 handmade ini….

Bagus2 banget, saya sampe bingung milihnya.. ^^

Bener2bener TOP BGT deh!!!  Maap merepotkan  :roll: , padahal Kang Insan lagi sibuk2nya kerja keliling nusantara (waktu itu lagi di Palembang ya Kang.. hihi).

Bagaimana saya bisa membalas jasa2nya beliau ini yang begitu baik, dikasih gratis pula… Jadi terharu.. :D

Desain Karya Kang Insan

Desain Karya Kang Insan

Dua minggu sudah nenek (ibunya mama) terbaring di ICU rumah sakit. Koma dan sesekali tersadar. Beliau mengidap penyakit stroke dan darah tinggi. Aroma kematian terasa begitu dekat sekali.

Jumat kemarin adalah hari terakhir saya menjenguk dan melihat beliau. Air mata saya tak kuasa menggenang di pelupuk mata ketika saya membisikkan permintaan maaf jika pernah berbuat salah atau pernah menyakiti hati beliau semasa hidupnya… walaupun saya tahu beliau koma, tapi saya yakin beliau mendengarnya. Seperti firasat bahwa ini adalah terakhir..

“Mbah, ini Vitri.. Mbah… Vitri yakin Mbah bisa denger suara Vitri.. Vitri minta maaf kalo Vitri pernah berbuat salah atau menyakiti hati Mbah.. Mbah ingat Allah terus, yah… Ingat Allah terus….. Vitri sayaaaaang banget sama Mbah…..”, bisikku pelan…. dan tak kuasa air mataku tumpah melihat kondisi beliau yang semakin memburuk….

Allah ampuni segala khilaf nenekku dan ambillah secara khusnul khotimah jika engkau menghendakinya atau jika belum saatnya, sembuhkanlah beliau..

Dan tadi jam 2 malam, ketika saya sedang tidur dan bermimpi akan mengerjakan sholat, mama membangunkan saya..
“Vit… bangun… Mbah Pupa sudah nggak ada, Vit… Mbah sudah nggak ada….”

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un….

Telah meninggal dunia nenek (Masfufah) dalam usia 74 tahun.
Semoga semua amal baik beliau diterima Allah, diampuni segala khilafnya dan dilapangkan kuburnya… Semoga beliau termasuk ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang shalih dan menempatkan beliau di dalam Jannah-Nya yang indah….

Amiiiin Allahumma Amiiin……

*Nenek, aku sayang sama nenek.. Semoga Allah mempertemukan kita kelak di tempat terindah ya, Nek….

Jodoh memang rahasia ilahi. Orang yang mendapatkan jodoh, sesungguhnya bukan mendapatkan apa yang dia cari, tapi sekadar menjemput apa yang Allah beri. Karena jodoh adalah bagian dari rezeki. Ia bisa berlari saat dikejar, dan mendekat saat tak dicari. Tapi, kadang kala ia tak bergeming saat dikejar, dan menjauh saat dibiarkan. Misterius.

Ada orang yang menemukan jodohnya justru karena mendekam di balik jeruji penjara. Tempat seseorang dieksekusi dengan pengucilan. Interaksinya dengan orang lain selain dengan penghuni atau petigas penjara dibungkam bisu. Namun ia akhirnya menikah justru dengan salah seorang polwan yang ikut menggiringnya ke penjara. Aneh? Tidak juga.

Dalam kasus lain, seorang pria yang usianya sudah menginjak 40 tahun masih men-jomblo. Sebuah peperangan antarsuku memaksanya berimigrasi ke negeri asing. Di negeri itu ia hanya cukup mendekam 2 bulan saja, untuk kemudian menikahi seorang wanita cantik yang baik dan shalihah. Ia sama sekali tak menyadari, bahwa sang jodoh menantinya di negeri seberang, sehingga hanya dengan imigrasi yang tak pernah ia bayangkan itu, ia baru bertemu dengan jodohnya.

Tak ada yang aneh dengan semua kejadian itu. Selama itu soal jodoh, semua bisa mendapatkan atau tidak mendapatkan pasangan yang sama sekali tak pernah diduganya. Meski demikian, tentu, mencari jodoh tetaplah disyariatkan.

Mencari dan menjemput jodoh (khusus perempuan) bisa ditempuh dengan tiga cara:

Pertama, usaha secara fisik.
Yaitu mencari pria shalih yang layak menjadi suami, yang mampu bukan saja mendampingi sebagai suami, tapi juga mampu membimbing untuk menjadi muslimah yang lebih baik dari hari ke hari.
Dalam menempuh jalan pertama ini, bulatkan niat untuk mencari sosok pria idaman yang betul-betul akan membawa menuju kebahagiaan hakiki. Niscaya Allah akan membimbing kea rah jodoh itu, cepat atau lambat. Karena dengan apa yang diniatkajn, seseorang akan digiring menuju takdirnya.

Kedua, usaha berupa doa dan munajat.
Allah berfirman, ”Dan apabila hamba-Ku bertanya tentang tentang Aku, maka jawablah bahwa Aku dekat. Aku akan mengabulkan doa orang-orang yang berdoa kepada-Ku…” [QS. Al-Baqarah: 186]
Doa adalah senjata orang beriman. Jangan merasa bosan berdoa meski secara lahiriah doa itu belum terkabul. Yakinlah bahwa Allah mendengar apa yang kita pinta.
Tambahkanlah dengan memperbagus shalat, banyak beribadah, berdzikir, dan rajin mengaji serta mempelajari Islam. Mendekatlah kepada lingkungan orang-orang shalih. Karena di lingkungan itu, seseorang akan diminati karena keshalihannya. Beda dengan di lingkungan masyarakat umum, biasanya orang lebih diminati karena penampilannya. Ingat, bahwa jodoh Allah itu kebanyakan akan mempertemukan sepasang manusia, yang shalih dengan yang shalih, yang tidak shalih dengan yang tidak shalih. Kalau mau mendapat suami yang baik, shalih dan berbudi, jadilah wanita muslimah yang shalihah.
Sabda Rasulullah, ”Roh-roh itu bagaikan tentara-tentara yang berbaris. Siapa saja di antara mereka yang saling mengenal, akan saling mengakrabi. Dan siapa saja di antara mereka yang tidak saling mengenal, akan saling menjauhi.” [HR. Al-Bukhari dalam shahih-nya, kitab Al-Anbiyaa’, bab Roh-roh yang berbaris, hadits No. 2638]

Ketiga, dengan kesabaran dan ketabahan.
Allah berfirman, ”Dan jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya yang demikian itu amat berat kecuali bagi orang-orang yang yang khusyu’, yaitu orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Rabb-nya, dan mereka akan kembali pada-Nya…” [QS. Al-Baqarah: 45]
Kita harus menyadari bahwa bila kita baik, Allah akan memperlakukan kita dengan baik. Bila kita bertawakal kepada Allah, maka dengan keshalihan dan ketaatan kita kepada Allah, niscaya Allah akan mencarikan jodoh yang sesuai dengan kita. Bisa jadi tidak sebentar, karena Allah sedang menguji kita. Allah sedang ’berbicara’, apakah kita bersabar dan ikhlas dalam beribadah kepada-Nya?

Disadur dari majalah Nikah, Volume 07, 15 Juni – 15 Juli 2008

Artikel ini kudapat dari Mbak Ovis di sinih

Makasih banyak Mbak Ovis atas bagi2 artikel ilmunya… :)

dsc02529

Dessert yang satu ini sebenarnya adalah pudding cokelat seperti kebanyakan, hanya saja yang membedakan.. pudding cokelat ini rasanya gurih karena mempergunakan bahan dasar santan dan air kelapa. Rasanya pun semakin lumer ketika disajikan dengan saus vla. Cobain yuk ;) …!

Bahan Agar-agar:

1. 3 bungkus agar-agar putih

2. 350 gram gula pasir

3. 1200 ml santan

4. 700 ml air kelapa

5. 300 ml susu cair

6. 2 sdm cokelat bubuk, diaduk dengan 100 ml air panas

7. 1 sdt garam

8. 1 sdt vanili atau 2 lembar daun pandan wangi

Bahan Vla:

1. 300 ml susu cair

2. 100 gram gula

3. 2 sdm maizena, dilarutkan dalam 100 ml air hangat

4. 1 sdm mentega

Cara Membuat:

1. Masukkan gula, agar-agar, air kelapa, santan, garam, vanili dan susu cair ke dalam panci. Didihkan diatas kompor sambil diaduk-aduk.

2. Apabila adonan telah mendidih, angkat.

3. Siapkan loyang besar dan masukkan setengah adonan kedalamnya. Lalu sisanya tetap sisihkan di dalam panci.

4. Masak sisa adonan diatas kompor dan tambahkan larutan cokelat bubuk, aduk-aduk hingga mendidih. Angkat dan sisihkan.

5. Bila adonan putih dalam loyang sudah setengah mendingin, masukkan adonan cokelat kedalamnya.

6. Untuk membuat saus vla, campur susu, gula, larutan maizena dan mentega dalam panci, lalu panaskan diatas kompor sambil diaduk-aduk. Masak hingga mendidih. Angkat.

7. Hidangkan pudding yang telah mendingin (bisa dimasukkan ke dalam lemari es) dengan saus vla.

Kemuliaan wanita shalihah digambarkan Rasulullah Saw. dalam sabdanya, “Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah“. (HR. Muslim).

———-
Oleh: Abdullah Gymnastiar

MQ Media Online – Shalihah atau tidaknya seorang wanita bergantung ketaatannya pada aturan-aturan Allah. Aturan-aturan tersebut berlaku universal, bukan saja bagi wanita yang sudah menikah, tapi juga bagi remaja putri.

Mulialah wanita shalihah. Di dunia, ia akan menjadi cahaya bagi keluarganya dan berperan melahirkan generasi dambaan. Jika ia wafat, Allah akan menjadikannya bidadari di surga. Kemuliaan wanita shalihah digambarkan Rasulullah Saw. dalam sabdanya, “Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah”. (HR. Muslim).


muslimahmokuliah
Dalam Al-Quran surat An-Nur: 30-31, Allah Swt. memberikan gambaran wanita shalihah sebagai wanita yang senantiasa mampu menjaga pandangannya. Ia selalu taat kepada Allah dan Rasul Nya. Make up- nya adalah basuhan air wudhu. Lipstiknya adalah dzikir kepada Allah. Celak matanya adalah memperbanyak bacaan Al-Quran.

Wanita shalihah sangat memperhatikan kualitas kata-katanya. Tidak ada dalam sejarahnya seorang wanita shalihah centil, suka jingkrak-jingkrak, dan menjerit-jerit saat mendapatkan kesenangan. Ia akan sangat menjaga setiap tutur katanya agar bernilai bagaikan untaian intan yang penuh makna dan bermutu tinggi. Dia sadar betul bahwa kemuliaannya bersumber dari kemampuannya menjaga diri (iffah). (lagi…)

Beberapa waktu belakangan saya dibayang-bayangin sama nasi bakar. Liat status Facebook Mbak Lulu Basmah (Bunda Athira) ada nasi bakar sumsum, baca majalah IIDI mama saya ada bocoran resep nasi bakar ayam jamur, trus juga pas asyik blogwalking nemu postingan kuliner tentang nasi bakar yang ada di Bogor dan Bandung… Deuh,, semakin pengen makan nasi bakar jadinya.. Pernah sih dulu *sekitar dua tahun yang lalu* saya mencoba mencicipi nasi bakar ati ampela di salah satu resto Sunda yang ada di Surabaya. Tapi agak kurang terasa gitu sih gimana uniknya rasa nasi bakarnya karena dimakan bareng sayur asem. Ah,, nyesel juga napa makannya pake dicampur kuah sgala.. hehehe.. Jadi pengen jalan2 ke bandung or Bogor, hiks… Pengen wisata kuliner disana. Tapi kapan yah… :roll:

Daripada mupeng bin ngiler mlulu sama nasi bakar,,,, akhirnya hari Sabtu pagi ini saya pun berhasil mewujudkan keinginan untuk menghadirkan hidangan nasi bakar di rumah.. Dengan cara apa? Pergi jauh-jauh ke Bandung sono buat beli? atau delivery service ke resto Sunda yang ada di Surabaya? Hehehe… :lol: ya enggaklah,, ngapain susah-susah beli jauh-jauh, mahal pula.. Trus gimana tuh? Bikin sendiri dong. Lebih mur-mer lagi. Metik daun pisang di kebun belakang rumah, memeras santan dari buah kelapa, memetik daun pandan.. dan ngubek-ngubek dapur :P Klutik-klutik.. Tarra!! Jadi deh.. Nasi bakar daging. Pengennya sih make jamur kancing, tapi berhubung nggak ada jamur, ya sudlah,, kapan-kapan aja kalo da niatan bikin lagi saya musting hunting ke pasar.

Awalnya saya mau bikin nasi bakar ala resep majalah IIDI-nya mama or browsing resep di internet. Tapi kagak jadi niruin resep-resep itu,, cm sekilas ngeliat aja trus mama menyarankan dagingnya dibumbu opor saja, dan nasinya nanti dicampur santan. Hmmm,, ide yang bagus. Toh resep-resep yang kuperoleh dari hasil browsing pun juga bervariasi, ada yang nasinya dicampur santan, ada yang make mentega, trus ada pula yang diberi kaldu ayam atau daging, bahkan yang paling simpel make irisan bawang merah. Tergantung selera dan ketersediaan bahan . Yang pengen mencicipi.. Monggo dipun dahar (Silakan dimakan) atau Wilujeng Tuang ya *sotoy* :mrgreen: Enak lho.. ;) apalagi dihidangkan bareng emping melinjo, lalapan timun dan sambal terasi. Hmmmmmm….

Yuk dicoba sendiri di rumah… ^^

Nasi Bakar Daging


Bahan

Opor Daging:

250 gram daging sapi, dipotong kecil-kecil

200 ml santan kelapa

Bumbu opor:

5 buah bawang merah

5 buah bawang putih

6 buah kemiri

1 sdt merica

Jinten sedikit

Asam Jawa sedikit

1 sdt garam

1 sdm gula

3 cm jahe, memarkan

1 batang serai

2 lembar daun jeruk purut

2 buah daun salam

Nasi:

500 gram nasi hangat

150 ml santan kelapa

1 buah daun pandan

½ sdt lada bubuk

½ sdm garam

Daun pisang

Cara Membuat:

  1. Haluskan bawang merah, bawang putih, kemiri, merica, jinten, asam jawa, garam dan gula.
  2. Panaskan minyak penggorengan, tumis bumbu, masukkan jahe, serai, daun jeruk purut, dan daun salam. Aduk-aduk hingga harum.
  3. Masukkan potongan-potongan daging sapi ke dalam tumisan bumbu, aduk-aduk hingga daging matang.
  4. Masukkan 200 ml santan ke dalamnya dan biarkan hingga santan meresap ke dalam daging, angkat.
  5. Panaskan santan kelapa yang telah diberi daun pandan, sisihkan.
  6. Campur nasi hangat dengan santan, tambahkan lada dan garam, aduk-aduk hingga rata dan sisihkan.
  7. Ambil dua lembar daun pisang, taruh sekitar 100 gram nasi, satu sendok makan opor daging, bila ada tambahkan daun kemangi, bungkus bentuk seperti lontong.
  8. Kukus dalam dandang panas selama 15 menit.
  9. Panggang di atas bara api hingga daun mengering.
  10. Sajikan hangat.

Untuk 5 porsi jumbo ^^

Penulis: Ummu Rumman Azzahra Muroja’ah: Ustadz Nurkholis, Lc.

“Ukh, bingung nih mau masak apa buat suami. Ibu saya tadi datang bawa terong, tapi sayang bingung, terongnya harus diapain. Emang terong bisa dimasak apa aja sih, Ukh? Saya nyesel kenapa nggak dari dulu belajar masak…”

Kejadian di atas dialami salah seorang sahabat penulis seminggu pasca-menikah. Berangkat dari kejadian tersebut, penulis merasa perlu berbagi pengalaman bahwa memasak ternyata punya peran tersendiri dalam sebuah rumah tangga. Mungkin kejadian di atas tidak perlu membuahkan masalah jika si istri ternyata piawai dalam hal masak-memasak. Namun, bagaimana dengan mereka yang mengenal bumbu dapur saja tidak bisa?
Pentingkah Memasak?

Memasak merupakan aktivitas yang banyak dilakoni oleh para wanita sejak turun temurun. Meski sekarang tidak sedikit pula laki-laki yang handal memasak, namun dalam kehidupan rumah tangga, memasak tetap harus diperani oleh wanita. Sekilas kita lihat aktivitas ini mungkin sangat remeh-temeh. Tetapi pada prakteknya tidak akan semudah itu. Orang yang mengaku bisa masak pun terkadang suka dihampiri rasa tak percaya diri ketika masakannya harus dicicipi orang lain. Maka tidak heran jika para pengamat seni menempatkan masakan sebagai karya seni yang paling berharga di antara semua karya seni lainnya.

Begitu pentingnya memasak hingga tak jarang kita jumpai banyak orang yang terkagum-kagum dengan seseorang yang menguasai bidang ini. Pun seorang istri yang pintar masak. Dengan keahliannya tersebut akan membuat suaminya betah di rumah dan malas membeli makan di luar. Masakan yang enak bisa menjadi salah satu perekat cinta seorang suami kepada istrinya. Bahkan memasak untuk menyenangkan suami bisa menjadi ladang pahala jika diniatkan untuk ibadah kepada Allah. Karena salah satu ciri istri shalihah adalah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memenuhi semua hal yang disukai suaminya selama tidak dalam bermaksiat kepada Allah.

Memasak Sebagai Ladang Pahala

Saudariku –yang semoga senantiasa dirahmati Allah- apakah kalian menyadari bahwa kegiatan memasak ini ternyata bisa sekaligus menjadi kegiatan ibadah? Sebagai seorang muslimah kita diamanahkan untuk bertanggung jawab atas rumah kita dan menyiapkan makanan kepada semua orang yang ada di dalamnya. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang kepemimpinannya. Penguasa adalah pemimpin, seorang laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya, wanita adalah pemimpin atas rumah suaminya dan anak-anaknya. Jadi, setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang kepemimpinannya.” (HR. Bukhari)

Untuk itu tidak ada salahnya bagi seorang muslimah untuk menyiapkan santapan bagi keluarganya sebaik mungkin, demi melayani hamba-hamba Allah yang shalih, semisal suami, anak-anak, orang tua, dan semua orang yang ikut menikmati masakan yang kita masak. Dengan begitu, seorang muslimah akan ikut mengecap pahala yang Allah berikan kepada mereka, di mana sebenarnya kita sudah ikut membantu amal perbuatan mereka.

Memasak tidak hanya sekedar kegiatan meramu bumbu dan bahan makanan hingga terciptalah masakan lezat yang siap santap. Namun memasak juga bisa menjadi media kita untuk memikirkan dan mensyukuri semua nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Jika kita cermati, semuanya adalah rezeki yang telah Allah tentukan kepada kita. Karunia tersebut terlimpah dengan begitu mudah kepada kita setelah melalui proses campur tangan banyak orang.

Kita perhatikan saja sayur-sayuran yang kita santap. Akan kita dapati bahwa di sana ada yang menanaminya, ada yang mengumpulkan panennya, ada penjualnya, serta masih banyak lagi manusia yang berperan di dalamnya. Mereka dijadikan oleh Allah untuk melayani kita dan anggota keluarga kita. Padahal pada hakikatnya Allah-lah yang menanam dan menghidupkan sayuran tersebut sebagaimana firman-Nya, yang artinya,

“Pernahkah kamu perhatikan benih yang kamu tanam? Kamukah yang menumbuhkannya ataukah Kami yang menumbuhkan?” (Qs. Al Waqi’ah: 63-64)

Begitupun dengan nikmat yang lain yang banyak kita jumpai di meja makan kita. Allah berfirman mengenai hal ini, yang artinya,

“Dan dari langit Kami turunkan air yang memberi berkah, lalu Kami tumbuhkan dengan (air) itu pepohonan yang rindang dan biji-bijian yang dapat dipanen. Dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang tersusun-susun, (sebagai) rezeki bagi hamba-hamba Kami……” (Qs. Qaf: 9-11)

Adapun dalam memasak, hendaklah kita usahakan memasak berdasarkan apa yang menjadi kesukaan suami dan anak-anak serta keluarga kita. Ini semua dilakukan dengan harapan dapat membuat suami dan keluarga bahagia, demi wujud ketaatan kita kepada Allah. Cobalah tanyakan kepada mereka makanan apa saja yang mereka sukai, jika cara tersebut bisa menyenangkan mereka.

Kadang kita dapati seorang suami ternyata lebih pintar memasak daripada istrinya. Jika hal ini yang kita alami, janganlah merasa malu untuk belajar dari suami kita. Kita juga bisa menggunakan momen memasak bersama sebagai kesempatan untuk bercengkrama dengan suami sehingga terciptalah suasana kemesraan yang akan menambah rasa cinta di hati masing-masing.

Mari Memulainya dari Dapur

Saudariku, sebagai seorang muslimah yang ingin selalu meraih ridha Allah di setiap kesempatan, maka kita bisa memanfaatkan waktu-waktu kita di dapur untuk menjadi sarana mendekatkan diri kita kepada-Nya.

Berikut ini hikmah-hikmah yang bisa kita gali dari aktivitas memasak kita sehari-hari:

  1. Saat masakan kita telah matang, maka hadirkanlah dalam benak kita betapa Allah telah menganugerahkan kepada kita nikmat untuk bisa menyelesaikan pekerjaan kita.
  2. Saat memasak, cobalah untuk mengingat bahwa di luar sana masih banyak dapur-dapur yang tidak mengepul. Alangkah indahnya jika kita biasakan untuk selalu mengingat nasib fakir miskin, anak yatim, dan orang-orang yang membutuhkan yang ada di lingkungan tempat tinggal kita. Jika memungkinkan, kita bisa menyisakan sedikit dari jatah makan kita untuk mereka sebagai bentuk kepedulian kita terhadap mereka.
  3. Ketika mencium aroma sedap masakan kita, saat itu ingatlah tetangga kita. Sebab bisa jadi tetangga kita juga turut mencium aroma masakan tersebut. Akan lebih baik lagi jika kita menghadiahkan sebagian masakan tersebut kepada mereka, khususnya untuk masakan-masakan spesial yang kita masak. Dengan hal ini akan mengakibatkan tumbuhnya rasa cinta, saling menghargai dan memperbaiki hubungan tetangga.
  4. Dampak yang bisa kita peroleh dari sini adalah tetangga kita akan menghormati dakwah ini. Inilah di antara sarana yang paling sukses dan paling sederhana untuk memperkuat tali hubungan sosial dan menyuburkan sensitivitas perasaan hati kita. Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hendaklah kalian saling memberi hadiah, maka kalian akan saling mencintai.” (HR. Bukhari)
  5. Bagi yang sudah memiliki anak, mulailah untuk membiasakan mereka untuk ikut serta membantu kita memasak. Misalnya bisa dengan mempersiapkan bahan-bahan memasak, sehingga mereka benar-benar terampil. Di samping untuk mengenalkan apa-apa yang ada di dapur, hal ini juga untuk membuat mereka turut merasakan beban berat yang kita pikul. Sehingga mereka akan memberi penghormatan dan akan mudah memahami diri kita.
  6. Ketika mengunjungi kerabat dan teman-teman dekat, kita bisa memilih masakan karya kita sendiri sebagai oleh-oleh untuk mereka.

Terakhir, sebelum melakukan kegiatan memasak, ada aktivitas lain yang biasa sering kita lakukan yakni berbelanja di pasar. Bila kita cermati, kegiatan belanja ini bisa kita gunakan sebagai perkenalan dengan para penjual langganan kita. Ini juga sebagai sarana untuk menjalin tali persaudaraan dengan mereka, atau sebagai bentuk interaksi kita dengan masyarakat, dengan catatan kita tetap harus memperhatikan adab-adab berinteraksi dengan penjual. Kesempatan ini bisa pula menjadi sarana dakwah kita kepada mereka. Di sela-sela interaksi dengan mereka, kita dapat mengenalkan hal-hal yang halal dan haram dalam masalah jual beli, dan hal-hal lain yang mungkin sering dipertanyakan banyak orang.

Mulailah Belajar

Bagi sebagian yang lain, memasak mungkin menjadi masalah bagi mereka. Ada beberapa faktor yang membuat seorang muslimah enggan untuk memasak. Salah satunya adalah rasa malas untuk belajar, di samping juga faktor kesibukan di luar rumah serta banyaknya warung makan yang menawarkan jasa catering untuk mereka yang tidak sempat memasak.

Jika hal tersebut berlangsung terus menerus apakah tidak boros? Bagaimana jika suami atau anak-anak berkeinginan mencoba hasil masakan kita. Apa kita masih akan memilih makanan dari luar terus? Tentu kita tidak ingin seperti itu. Untuk itu, bagi yang belum pintar masak, buanglah rasa malas dan teruslah berlatih. Setelah terbiasa, nanti akan terbukti bahwa memasak itu bukanlah hal yang sulit, apalagi jika diniatkan untuk ibadah.

Untuk memasak kita memang akan sedikit repot. Mempersiapkan segala sesuatunya, dari perapian, peralatan sampai bahan, belum nanti jika sudah selesai harus membersihkan atau membereskan semuanya. Agak melelahkan memang. Namun kelelahan itu akan segera berganti kebanggaan dan kebahagiaan ketika suami dan anak-anak kita menyantap masakannya dengan lahap.

Nah, bagaimana saudariku? Semoga tulisan ini bisa bermanfaat untuk kita semua, terutama bagi penulis sendiri. Kita memohon pertolongan Allah agar selalu memberi kita kemudahan dalam menunaikan tugas-tugas kita sebagai muslimah. Allahu Ta’ala a’lam.

Maroji’:

1. Inilah Kriteria Muslimah Dambaan Pria (terj.), Abu Maryam Majdi bin Fathi As-Sayyid, Pustaka Salafiyyah.

2. Manajemen Istri Shalihah (terj.), Muhammad Husain Isa, Ziyad Books Surakarta.

3. Majalah Nikah vol. 5, No. 11 Edisi Muharram 1428 H. ***

Artikel www.muslimah.or.id

Halaman Berikutnya »